Tuesday, October 10, 2006
Bukan Negeri Dongeng
puisi cukup bermakna menurutku...
BUKAN NEGERI DONGENG
Ada Sebuah Impian Menari Di Angan
Mendamba Seorang Putri Cantik Jelita
Penawar Kala Lelah & Penyemangat Kala Malas
Tempat Berlabuh Setelah Berlayar
Dalam Sebuah Rumah Mungil Baiti Jannati
Namun Sadarilah Bahwa Istri Yang Kau Nikahi
Ia Bukanlah Putri Yang Secantik Zulaikha
Tidaklah Seteguh Aisiyah Dan Sepintar Aisyah
Apalagi Semulia Khadijah
Demikian Pula Ia Tidaklah Seikhlas Hajar
Tidaklah Sekuat Asma Dan Seberani Al Khonza
Atau Setabah Fatimah
Ia Adalah Wanita Biasa
Yang Bercita - Cita Menjadi Wanita Ahli Syurga
Agar Bisa Lebih Dekat Dengan Al-Kholiknya
Adalah Kisah Dari Negeri Dongeng
Akan Seorang Puteri Terpingit Di Atas Menara
Mendamba Seorang Pangeran Tampan Berkuda
Yang Membawanya Ke Istana Di Atas Bukit
Bertamankan Bunga - Bunga Cinta
Namun Sadarilah Bahwa Suami Yang Menikahimu
Ia Bukanlah Pangeran Yang Setampan Yusuf
Tidaklah Sehanif Ibrahim Dan Setabah Ayyub
Apalagi Semulia Muhammad.
Demikian Pula Ia Tidaklah Sesederhana Umar
Tidaklah Seberani Ali Dan Seperkasa Khalid
Atau Sepintar Ibnu Abbas
Ia Adalah Lelaki Biasa
Yang Berusaha Memperbaiki Diri
Untuk Lebih Dekat Dengan Robbul Izzati
Thursday, October 05, 2006
Merantau itu Indah
Salah satu ciri orang yang berakal dan berbudaya adalah tidak akan tinggal seterusnya di satu tempat. Meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengembara itulah bagian dari istirahatnya.
Pergilah engkau dengan penuh keyakinan! Niscaya akan engkau temukan pengganti semua yang engkau tinggalkan.Bekerja keraslah karena hidup akan terasa nikmat setelah bekerja.
Sungguh, aku melihat air yang tergenang dan berhenti, memercikkan bau yang tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, maka akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya jika engkau biarkan air itu menggenang maka ia akan mengeluarkan bau tak sedap.
Singa hutan dapat menerkam mangsanya setelah ia tinggalkan sarangnya
Anak Panah tak akan mengenai sasarannya jika tak beranjak dari busurnya
Andaikan mentari berhenti selamanya di tengah langit,
niscaya umat dari ujung barat sampai ujung timur akan bosan kepadanya.
Emas bagaikan debu, sebelum ditambang.
Sedangkan pohon cendana yang masih tertancap di tempatnya tak ubahnya seperti pohon untuk kayu bakar.
Jika engkau tinggalkan tempat kelahirnamu, engkau akan temui derajat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya.
Pergilah merantau untuk mencari kemuliaan karena dalam perjalanan itu ada lima kegunaan, yaitu: menghilangkan kesedihan, mendapatkan penghidupan, mendapatkan ilmu, mengagungkan jiwa, dan dapat bergaul dengan orang banyak.
(Imam Syafi’i)
Itulah salah satu cara Imam Syafi’i bersyair. Jadi Temans, mari kita ambil hikmahnya :
Menghilangkan Kesedihan
Sebelum ada di tempat baru, kita biasanya kena bad perception, ! Dengan merantau Insya ALLAH akan mendapatkan kegembiraan beraneka ragam. Misalnya persepsi kita itu ternyata salah, kenyataan sebenarnya tidak seburuk persepsi kita.
Atau ternyata kesulitan sebelum merantau yang kita anggap sangat berat terasa ringan dan tak ada artinya saat berjumpa dengan banyak orang yang jauh lebih sulit namun mereka lebih bersemangat.
Dan Kita pun merasa terobati
Mendapatkan Penghidupan
Salah satu faktor pikologis yang membantu kita. Kita akan terpacu untuk bekerja lebih keras untuk mendapatkan penghidupan di tempat baru.
Mendapatkan Ilmu
Banyak ilmu yang akan kita dapatkan sebab di tempat baru kita juga akan menjumpai banyak guru baru. Dan kita bisa berguru pula pada hinaan, pujian, makian, orang pandai, orang bodoh, dan orang sok pandai.
Ambil yang baik dan berguna untuk dirimu, tinggalkan yang buruk.
Mengagungkan Jiwa
Ketika Sahabat Abdurrahman bin Auf merantau dari Makkah ke Madinah, beliau dipersaudarakan dengan konglomerat Sa’ad bin Rabi’ dan ditawari kilau kemilau harta. Abdurrahman bin Auf yang juhud, wara’, jujur, dan baik akhlknya tidak serta merta menerima tawaran itu. Hanya satu permohonannya, tunjukkan jalan menuju ke pasar. Akhirnya Beliau menjadi konglomerat yang sukses.
Bergaul dengan Banyak Orang
“Hai Manusia, sesungguhnya, kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (QS Al Hujurat [49] :13)
Kita akan bergaul dengan banyak orang dari bermacam-macam suku dan bangsa, dan mengenal aneka karakternya, positif maupun negatif.
Ayo merantau, jangan sampai dari lahir sampai mati berada di tempat yang sama, Kurang Keren Ah…!!! Bagaimana pendapatmu?
*dicukil dari buku “Hidup untuk Hidup”, Masrukhul Amri – DarMIZAN : 2004
Tanyakan pada Qolbumu...
agak kacau gak? Moga gak termasuk golongan puisi Gombal...
kasih pendapat ya...
Tolong Tanyakan Pada Qolbu-mu
Sekilas Putri tampak dalam bayangan anggun dirimu…
Meski malu..
namun kutahu Pangeran-mu sedang kaunanti
Adakah rona wajahmu memberikan persetujuanmu
Untukku…?
Bukan…kuharap bukan rona wajah memerahmu…
Melainkan Qolbumu…
Bersediakah dirimu?
Layakkah diriku…?
Tentu hanya hatimu yang harus menjawabnya..
Bukan tentang hartaku… atau hartamu
Bukan tentang ketampananku… atau kecantikanmu
Bukan tentang Kecakapanku… atau kepandaianmu
Ini tentang celupan-Nya…
Dan kita pun bersama menuju diri-Nya
Sepenuhnya
ketika terwarnai-Nya
- eR - Februari 2006
Uang Setan Dimakan Hantu
Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan.Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.
Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau itu konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami lami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.
Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang.
Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.
Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.
Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untukmenjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan. Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak” Selama ini saya Insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.
Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ia lalu mengatakan, ?Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,? katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan disebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya di auditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.
Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.
Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti lama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.
Ada juga di antara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.
Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau tasan langsung biasanya memberi uang hari Jumat atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jumatan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.
Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur?an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.
Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.
Friday, September 22, 2006
...Ketika Media Melupakan Fakta
Tuesday, September 19, 2006
Bintang Tujuh
*******
Bu Guru yang Galak ngasih PR lagi…Gaswat kalo gak dikerjain…bisa disetrap n diomelin…
Untung ke-Ranggaanku gak terbatas…
Tapi biar Rangga yang penting amanah ya to…?
*******
7 things that scare me:
7 hal yang bikin ngeri...
*2. Salah Makan / Salah Warung… (semoga gak kejadian makan makanan gak halal)
7 random songs at the moment:
7 lagu yang paling kusuka...
*2. Sendiri-nya Saujana
*7. I Will Survive – CAKE (kenangan DIKLAT di Jogja..n ternyata di sini juga harus ”I Will Survive”)
*******
7 things that i like most:
7 yang kusuka
*4. Ngambil Gambar (Foto) yang Unik & keren (pengen jadi fotografer juga neh…)
*******
7 important things in my bedroom:
7 yang mesti ada di kamar tidur...
*******
7 random facts about me (ni kata orang-orang ya...):
7 tentang aku
*1. humoris
*2. kurus
*3. hitam (manis gak ya...)
*4. murah senyum
*5. rajin.. (kata orang-orang sih...)
*6. Sersan (serius-nya santai)
*7. Cakep (Cah KepBumen)
*******
7 things i said the most:
7 yang paling sering aku ucapin
*1. Enak Aja....
*2. Plis Deh...
*3. Muka Stop Jo...(Kalo mau turun pas naik angkot)
*4. Gimana? (ni kalo lawan bicara-nya logat Makasar yg cepet…susye nangkepnya)
*5. Ada Deh…Mo Tau Aja…
*6. Iya Pak…Iya Bu… (Kalo dipanggil senior)
*7. Enggak Ding…. (Klo lagi ngledek orang lain…)
*******
7 important things i plan to do before i die:
7 hal yang kurencanakan
*1. MANDIRI
*2. Nikah (memulai Mitsaqan Ghalidza)
*3. Be Happy Family
*4. Dapet S2 di UGM (Harus perbaiki TOEFL nih)
*5. Punya Toko Buku dan Rumah Baca di Kota kelahiran
*6. Ke Tanah Suci bareng Keluarga
*7. Jadi pegawai yang Amanah…bebas KKN
*******
Saturday, September 16, 2006
Ngerjain PR Lagi...
Ngerjain PR lagi…
Kali ini PRnya dari Ibu Andriana...(gak segalak bu Nawa...jadi agak santai neh...)
FAVOURITES
Favourite Color
Sekali biru tetap biru dan hidup biru…
Gak tau alasannya napa…tapi dulu waktu SMP nge-fave ama Ungu-nya Fiorentina, tapi lama-kelamaan ungunya kebiru-biruan…jadi pindah deh ke Biru…tapi tetep ngefans ma Viola Squadra juga loh….
Sebagian besar baju di rumah juga biru, kaos biru, sekarang di tanah baru, Manado…kebetulan Tim sepakbolanya (Persma) berjuluk Badai Biru…n barang2ku di sini banyak birunya juga…sampe sprei n anduk kemarin beli pilih warna biru…nah lho…jangan salahkan aku Ndi kalo samaan….
Favourite Food
Sop…Ayam or Sapi made in MyMom. Plus Tempe Goreng yang digoreng ampe kering (agak gosong malah…pahit+renyah+gurih jadi satu = enak loh…)
Or kalo gak ya Mie Rebus…tetep made in MyMom
Favourite Song
Mengemis Kasih…versi Snada…& Aa Gym… (mendayu-dayu…)
Favourite Movie
Petualangan Sherina…whuahahahaha….ceritanya dulu lagi ngefans juga ama “Sherina”yang lain….
Favourite Sport
Badminton di Jalan deket rumah (Jalan Mangga lebar +/- 4m) kalo ada kendaraan lewat minggir dong…. (tapi itu dulu…tapi sekarang lagi semangat senam “16” biasanya senam di tepi pantai kompleks Marina deket pelabuhan Speedboat yang mau ke Bunaken.
Favourite Day of the Week
Everyday is Favourite Day…tapi mungkin sekarang lebih suka Ahad…senam di Tepi Pantai hehe…
Favourite Ice Cream
Yang warna-warni rasanya…. (Paddle Pop…pelangi? Whuehehehe)
***
CURRENT
Current Mood
Ada keputusan yang sedang kunanti jawabnya…
Current Taste
mmmhhh… lagi bosen katering, jadi kalo makan siang pergi ke RM Surabaya, n kalo malem lagi sering makan Ketoprak depan Studio21
Current Clothes
lebih suka make kemeja lengan pendek…
Current Desktop
blom punya PC di kantor, laptop juga gak punya…
Current Toenail Color
no Toenail lah yaw…emang cowok apaan?
Current Time
WIB apa WITA?14.57 WITA = 13.57 WIB
Current Annoyance
Ketua Tim kerja ku kalo nyuruh2 gak lengkap, setengah2 jadi banyak yang harus dikerjain ulang or malah jadi mubadzir kalo kukerjain...bikin kesel...
Current Thoughts
Mikirin laporan tuh… harus jadi sebelum Mudik hehe..
***
FIRST
First Bestfriend
Saefudit Irawan. Teman SD…6 tahun bersama, maen bersama, momen paling sering bareng kalo pas istirahat pulang ke rumah, makan n beli jajan…pulang sekolah ngemi ayam, sepedaan (boncengan) keliling Kebumen, dll dsb… Terakhir ketemu di alun-alun waktu jalan pagi2…2 tahun yang lalu...
First Crush
Waktu TK.....whua...ama temen TK nyang akhirnya ketemu lagi pas SMP…. Tapi gak pernah jadi... Alhamdulillah... (sekarang anaknya dah merit n punya anak..)
Alhamdulilah lagi....kalo aku jatuh cinta gak pernah sampe jadi...moga cepet2 dipertemukan ama yang bisa langsung jadi
First Movie
Ari Hanggara….nonton sama Ibu waktu kecil (TK/SD ya?) pulang-pergi naik Becak....
First Lie
Whuaaaaaaaaa............udah gak inget...kebanyakan kali ya?
First Music
Lagunya Iwan Fals...(tapi sekarang malah lupa)
LAST
Last Cigarette
Hidup Sehat tanpa Rokok
Last Drink
Coffemix Ice…
Last Car-ride
Shogun-nya Mbak Nur…kupake buat fotokopi…
Tapi yang paling akhir…mikro biru jurusan Wanea-Samrat
Last Crush
Every Day is Love Day...jadi...bingung kan?
Last Phonecall
yang nelpon : Ena…nanyain kamera?
yang kutelpon : Rumah
yang misscall aku : Trio Kwek2...
yang kumiscal : Trio Kwek2 juga..
Last CD Played
MP3 Nasyid yg kubawa dari Kebumen…
***
HAVE YOU EVER
Dated one of your best friends
banyak yang ngajak tapi aku tolak.. ;p
Broken the law
Pas semester 2 kuliah, di Jalan Slamet Riyadi Solo pake motornya Baskoro waktu mau ke McD nawarin sponsor acara Try Out, tapi salah jalur… n...priiittttttt..... ”Selamat Siang....!!!!”
”Siang juga Pak...”
”Mas melanggar jalur...”
”Saya Orang Baru...hihi..”
Been arrested
Pas di Solo itu langsung bayar di tempat jadi gak krasa dihukum….
Skinny dipped
Pertanyaannya kebalik…aku gak bisa jawab…harusnya pertanyaannya kapan aku pernah gemuk?
Kissed someone you don't know
Pertanyaan bodoh….
***
Thursday, September 14, 2006
Secuil Cerita dari Tilamuta

Adalah sebuah anugerah . Ketika aku diberikan kesempatan menginjak tanah Gorontalo. Tersebutlah sebuah Kabupaten di dalam nya. Kabupaten Bolaemo. Tilamuta ibukotanya.
Rumah Bunga
Mulai masuk Propinsi Gorontalo,
(kalo aku membaca di harian Gorontalo Post dijuluki Serambi Madinah), ada sebuah ciri khas di sana. Di depan setiap rumah tatanan bambu/kayu, kalo di Tanah Jawa seperti biasa kita lihat penjual Bensin eceran. Kupikir juga demikian. Namun setelah melihat di depan rumah pasti ada, pikiran itu pun berubah. Dan Mbak Tanty seniorku pun memberitahu.
”Itu bukan tempat Penjual Bensin eceran. Tapi Rumah Bunga. Jadi Gubernur Gorontalo ingin agar jika orang melihat rumah bunga di depan rumah, dia berada di wilayah Gorontalo.
Dan emang bener.
Sepanjang perjalanan dari Bone Bolango nyampe Boalemo selalu ada rumah bunga di depan rumah tepi jalan
Mmh..kreatif...
Wajib Jilbab
Ohya, tentang Bumi Serambi Madinah...(Nawa gak percaya...kalo julukannya Serambi Madinah), kupikir wajar. Karena siswa sekolah di sana wajib mengenakan jilbab. Demikian perkantoran pemerintah. Wajib Jilbab juga. Dan yang tidak mengenakannya adalah yang non-Muslim. Jadi terlihat identitasnya.
Namun disayangkan. Jilbab mereka pakai hanya saat jam kerja/sekolah. Selepas itu terserah... Dan kujumpai yang demikian. Itulah realitanya.
Semoga yang tetap mengenakannya diberikan keistiqomahan.
Laut, Gunung, Purnama, dan Bintang
Pernah melihat Laut, Gunung, Purnama, dan Bintang jadi satu? Aku pernah. Dalam perjalanan Boalemo-Pohuwato saat Bulan Purnama. Namun karena mobil cukup kencang, aku nggak bisa mengambil gambarnya. Dan bener2 indah... Subhanallah...
= gambar tempat itu siang hari...
Makan Ikan setiap hari
Pertama kali datang, makan Ikan Doropa (kalo gak salah demikian namanya...) Enak...
Tapi kalo tiap hari makan Ikan? Bosen banget...
So..pernah saking bosennya akhirnya aku malah bikin PopMie aja...
Karaoke? No Way...
Kalo Karaoke...itu ciri khas Bumi Sulawesi Bagian utara kali. Setiap ada acara makan...pasti deh...beraksi tuh penyanyi-penyanyi. Dan sempat2nya nawarin aku nyanyi. Eh, No Way deh... Dan Alhamdulilah...aku masih bisa menghindarinya.
Sebenarnya, masih banyak cerita dari Tilamuta. Namun yang bisa kucuil cuma sedikit. Dan Tilamuta esok... semoga Lampu Merahmu tidak cuma satu...


















