Showing posts with label Tanya Kenapa?. Show all posts
Showing posts with label Tanya Kenapa?. Show all posts

Monday, August 31, 2015

#KuisBudiPekerti : Tempat Duduk di KRL Commuterline



Ada seorang siswi SD yg tinggal daerah pondok ranji, bersekolah di salah satu SD Swasta dekat kebayoran. Siswi tersebut tiap harinya bersekolah naik KRL jurusan Tanah Abang dengan berangkat dari stasiun Pondok Ranji dan turun di Stasiun Kebayoran.

KRL tiap harinya selalu padat, dan dapat tempat duduk di KRL merupakan keberuntungan. Seperti pada pagi ini, anak SD tersebut ternyata dapat tempat duduk dalam KRL. Namun beberapa menit kemudian, ada seorang lansia yang tidak mendapatkan tempat duduk. Lansia tersebut berdiri di hadapan siswi SD yg sedang duduk itu. Lansia ini wajahnya tampak keliatan kesal karena ingin duduk dengan harapan siswi tersebut mau memberikan tempat duduk untuknya.

Dan terjadilah dialog berikut:

Ibu Lansia: Dek, bisa ganti ibu yg duduk tidak?
Siswi SD : gak ah... ini kan tempat duduk khusus penumpang biasa. Karena ibu orang lansia, yah suruh berdiriin orang lain yg lagi duduk di tempat duduk prioritas lah..
Akhirnya ada PKD yang menghampiri
PKD: ibu duduk saja di tempat prioritas. karena ini untuk penumpang lain.!
Ibu Lansia; Baik mas..
Siswi SD : Nah, gitu dong bu duduk di tempat prioritas.. makannya gunain yang benar itu tempat duduk prioritas biar sepi atau padat penumpang!..


Dari peristiwa tersebut, kira kira siapa yang benar siapa yang salah??



komentar komentar yang masuk:
- Anak itu benar
- Ga taulah mana yg bener.sebaikna anak SD memberikan tmpt duduk.hormatilah org lbh tua darimu.di penabur kan slalu diajarkan budi pekerti
- naik krl kl sudah jadi rutinitas maka kesempatan dapat bangku adalah hal yg sangat langka .. itulah gunanya PKD .. mentertibkan yg 'tidak tertib'
- Secara hak si anak itu bener, secara etika emang ga pantes.
- Kursi prioritas untuk penumpang prioritas
  Kursi lain ya siapa cepat dia dapat.
  Ibu itu harus beri contoh meminta hak pada tempatnya.anak itu tepat meminta ibu itu berbicara pada   perampas hak prioritas
- Walau anak itu benar, saya malah jadi penasaran; Orang2 disebelah kanan dan kiri anak itu pada ngapain ya? Lansia semua kah? Anak bayi semua kah? Ibu hamil semua kah?
- Kenapa fokusnya hanya ke si anak SD itu, apakah tdk ada penumpang lain yg juga duduk di sebelah kanan dan kiri anak SD itu...yg tentunya masih lebih kuat utk berdiri dibanding anak kecil
- Sy pernah begini juga kereta masuk kosong naik semua penumpang tetiba ada rombongan (maaf) tuna netra dan org tua semua penumpang mengarahkan agar mereka duduk d pojok ehh pada ga mau akhirnya bbrp ibu tuna netra yg ga krbagian tempat duduk meminta hak penumpang biasa alesanya ga mau misah, klo dah gini kan ga nyaman punya hak gak di pakai, dapat hak malah disuruh pindah.
- Kenapa ibu itu memintanya pada anak kecil? Anak kecil sama prioritasnya untuk duduk...
- Itulah...
  Makanya aneh kalau membela si ibu
  1. Meminta ke anak kecil?minta ke yg lain ga berani?
  2. Meminta kursi di kursi biasa padahal ada kursi prioritas?
- Kalo kursi prioritas penuh & di tempati oleh yg berhak atas kursi prioritas gimana dengan lansia itu, apakah dia harus berdiri karna kursi prioritas penuh atau kah dia harus duduk di lantai ?
Bagaimana dengan manusia-manusia yg pura-pura tidur ?
- Kl kursi prioritas penuh dg yg berhak maka di kursi biasa bisa meminta tempat pada pria2 sehat,     wanita2 sehat. Baru ke anak2
Kecuali ada banci2 kaleng dalam bentuk laki2 tidur atau cewe2 manja dalam bentuk pekerja kantoran yg ga tau diri Mereka ini yg harus disemprot
- Bagus seandainya anak SD tersebut memberikan tempat duduknya bagi si nenek. Tapi ga bisa disalahkan juga bila ia tidak mau memberikan. Secara moral mungkin memang jd g terlihat bagus, karna sianak ga mau memberikan tempat duduk/menghormati yg lebih tua. Tapi yg jd pertanyaan, kenapa si nenek meminta kepada anak SD? Karna dia anak2? Ga berani menegur orang dewasa yang lebih kuat untuk berdiri? Ga mungkin kan kanan kiri atau belakangnya yg duduk Balita, Orang Hamil, Orang berkebutuhan khusus atau sesama lansia semua? Share saja, saya sering pergi menggunakan KRL bersama istri dan anak saya yg masih 2 tahun. Setiap istri saya berdiri, biasanya malah orang tua yg mempersilahkan tempat duduk untuk istri saya. Kadang akhirnya ada yg lebih muda yg mengalah. Atau seringnya saya tolak bila orang tua itu sudah sangat sepuh. Atau bila orang tua tersebut memaksa, ya saya hanya mendudukkan anak saya saja, biar orang tua tersebut tetap duduk. Tapi memang sie, setiap orang itu beda kondisi, beda kekuatan dan beda perilakunya
- Yah secara logika memang bener anak itu, tapi klo secara etika kurang bener. Oh iya ada lagi neh kejadian. Banyak orang pulang kerja yg daerah juanda biasanya suka naek kereta balik ke kota dulu jurusan bogor biar dapat tmpt duduk. Pas kereta sudah balik dari jkt menuju bogor distasiun sawah besar, juanda n gondangdia n cikini tiba2 ada ibu2 yg tdk terlalu tua habis pulang kerja juga suka mepet2 atau nyindir2 yg duduk yg lbh muda buat kasih tmpt duduk atau ada yg bilang lg sakit pusing dll or ibu2 hamil yg dicariin kursi ma PKD. Gimn sikap temen2 klo ngalamin hal ini? Tau sendiri kan tempt duduk hal yg langka di kereta, apalagi tiap hari berjuang dikereta di jam2 sibuk. Padahal udah mikirin solusinya biar ikut dulu ke kota untuk dpt tmpt duduk. Suka dilema klo kaya giini.
- Ane pun kalo kebagia tempat duduk pasti aja ada ibu2 yg masih muda atau mahasiswi yg nempelin lututnya ke kaki ane agar ane kasih tempat duduknya tapi maaf aja kalo luat mahasiswi atau ibu3 yg madih muda n sehayt ga giti aja ane kasih duduk..kecuali ug udah sepuh,hamil m yg kurang enak badan....baru ane kasih duduk...bingung juga ane knapa tiap ane duduk ada aja yg gesekin lututnya ke ane padahal di sekeliling ane masih banyak yg muda juga apa karena muka ane yg imut yak
- Intinya sih kalo lansia , bumil & penyandang disabilitas ikut kreta balik aja kecuali naik dari stasiun pertengahan ya hanya bisa pasrah akan keadaan di dalam kreta, untung krl bks meskipun padat tapi ga sepadat bogor
- Seharusnya penumpang punya empati n toleransi yg tinggi ke sesama penumpang, klo memang stasiunnya deket2 kota, klo memungkinkan ikut balik ke kota dulu yah ikut balik ja. Jangan menjadikan senjata kondisi fisik qt biar dikasih tempat duduk ma penumpang lain. Saya pribadi klo lagi ga enak badan pasti ikut balik ke kota dulu, karena tau kondisi dalam kereta seperti apa dlm jam2 sibuk dan rasanya jg ga enak klo minta2 tempat duduk dng ngusir2 orang secara halus, padahal qt ga tau kondisi penumpang yg duduk seperti apa, bisa ja kan lagi sakit tapi ga kliatan sakit, atau habis begadang butuh tidur beneran dll. Kecuali klo naek dipertengahan stasiun beda cerita ya.
- Klo postur tubuh nya bisa membuat nya tergencet saat berdiri berhimpitan dg penumpang lain, si anak SD berhak tetap duduk....
- Terkadang juga ada ibu muda yg bilang mas aku hamil, padahal bukan pada tmpt duduk prioritas...knp sih org hamil bukan naik dirangkaian kreta khusus wanita...!!!!

Friday, November 06, 2009

Kisah Polisi dan Surat untuk Tuhan...

Ini kisah sudah berputar-putar di dunia maya dari tahun 90-an... tapi rasanya memang masih relevan ya dengan keadaan sekarang.... ini loh ceritanya:
Alkisah, ada keluarga yang hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan taraf hidupnya, tetapi selalu menemui kegagalan. Dalam suasana keputus-asaan, sang Bapak sebagai kepala keluarga secara khusuk berdo’a kepada tuhan. “Yaa...Tuhan berikanlah hambamu ini rezeki sehingga kami dapat memberi nafkah kepada anak istriku”. Do’a terus dipanjatkan setiap malam, tetapi rezeki belum juga datang dan hidupnya tetap dalam kemiskinan.
Pada tengah malam, ketika selesai berdo’a sang Bapak merenung dalam hati, kenapa Tuhan belum juga memberi rezeki, apakah Tuhan sudah tidak mau lagi mendengarkan do’aku ? jika demikian, apa salah dan dosa yang telah aku perbuat ? Masih dalam keputusasaan, akhirnya muncul dalam pikirannya : Jika Tuhan sudah tidak mau mendengarkan do’aku, maka sebaiknya aku akan menulis surat kepadaNya.
Lalu ditulislah surat kepada Tuhan yang isinya permohonan agar dirinya diberi rezeki berupa uang sebesar Rp 200.000,- sebagian untuk membayar SPP anaknya dan sisanya akan dibelikan beras untuk keluarganya. Surat selesai dibuat, lalu dimasukkan amplop dan ditulis: Kepada Tuhan di Surga.
Setelah ditempeli perangko seadanya lalu dimasukkan dalam kotak surat (bus surat). Petugas pos pun bingung ketika melihat surat dengan tujuan yang aneh, dan dalam kebingunang itu bertemulah petugas pos tersebut dengan Polisi. Terjadilah sebuah dialog antara petugas Pos dan Pak Polisi,”Pak polisi, saya bingung mengantarkan surat ini, dapatkah Bapak membantu saya?”
Alamat tujuan dan pengirim surat dibaca Polisi, karena curiga maka dibukalah surat tersebut. Setelah dibaca isi surat, Polisi yang baik hati terketuk hatinya, maka berkatalah dia kepada Petugas Pos : ”Surat ini saya bawa nanti akan saya urus dan sampaikan kepada pengirimnya”.
Ketika polisi sudah selesai bertugas, dia lihat di dompetnya hanya ada uang Rp150.000,-. Namun karena polisi itu memang orang yang baik, maka dia pun berniat memberikannya kepada pengirim surat itu. Dia memasukkan seluruh uangnya sebanyak Rp 150.000,- kedalam amplop balasan surat itu, lalu dicarilah alamat Bapak si pengirim surat tersebut. Ketika sudah ditemukan rumah si pengirim surat, diketuklah pintu beberapa kali.
Pintu dibuka oleh seorang anak dan terjadilah dialog : “Bapak ada?” Anak tersebut menjawab: “Bapak sedang sholat dan biasanya dilanjutkan dengan berdoa yang cukup lama Pak!”.
“Baik, kalau begitu karena saya masih ada urusan lagi, tolong berikan surat ini kepada Bapakmu” Pak Polisi seraya bergegas pergi. Ketika Bapaknya selesai berdoa, sang anak memberikan surat tadi kepada Bapaknya. Lalu dibuka, dan terkejut ketika melihat didalamnya ada uang sebanyak Rp 150.000,-.
“Parto...!” Sang Bapak memanggil anaknya, “Siapa yang mengantarkan surat ini tadi?” tanya Sang Bapak kepada anaknya, lalu dijawab: “Tidak tau pak namanya, tetapi dia tadi kesini masih berseragam Polisi”. “Aaahhh...dasar Polisi” Bapaknya menggerutu, “permohonan saya kepada Tuhan kan Rp 200.000,-. Kok tinggal Rp.150.000,-? “Dasar Polisi....dasar Polisi !!!” Masih suka melakukan Pungli kepada orang yang jelas-jelas susah seperti saya”....
Hikmah dari cerita ini: Kadang orang yang berbuat baik, belum tentu dianggap baik oleh yang tidak mengetahuinya. Di Indonesia saya percaya polisi yang baik lebih banyak daripada yang tidak baik, namun kadang citra negatif polisi yang terlanjur melekat dari jaman dulu seakan menjadi tembok tebal yang menghalangi pandangan orang-orang awam. Tapi saya percaya, ke depan POLRI harus bisa menunjukkan profesionalitasnya dalam menegakkan hukum, kebenaran, dan keadilan.... ingat, 2010 katanya sudah diberikan remunerasi loh.....pertanggungjawabkan dengan kinerja yang baik ya bapak dan ibu Polisi......

Thursday, October 01, 2009

Menanti Empati Senator dan Legislator....

Para Anggota DPR dan DPD terpilih yang terhormat,
Hari ini Anda Sekalian dilantik menjadi Anggota DPR dan DPD 2009 - 2014
Sementara di Padang dan sekitarnya di Sumatera Barat, saudara-saudara kita, Rakyat Indonesia yang di sana sedang tertimpa musibah gempa bumi. Dan tentunya menyulitkan keadaan mereka di sana.

Di saat Anda Sekalian menginap di hotel berbintang yang mewah untuk mengikuti acara pelantikan, Saudara-saudara kita di sana bingung tidur di mana karena rumah tinggal mereka banyak yang rusak, roboh, bahkan rata dengan tanah.

Empati. Semoga Anda Semua diberikan rasa empati.
Beraksi. Indahnya jika Anda Semua menyisihkan sebagian apa yang anda terima untuk acara pelantikan anggota DPR dan DPD dan menyalurkannya kepada yang berhak.

Kalo itu Anda dilakukan, sah-lah proses pelantikan Anda Semua menjadi wakil rakyat. Tapi kalo anda tak berempati dan beraksi untuk rakyat yang tertimpa musibah di sana, Anda adalah Wakil Rakyat PALSU.... menjual nama rakyat untuk kesenangan pribadi.

Thursday, October 30, 2008

komentar mereka...

atas postingan "Bisakah Kita Disiplin" yang saya lempar ke milis auditor angkatan saya, maka diperolehlah tanggapan-tanggapan sebagai berikut:
anang bs
comment:
itu lah menurutku beratnya jadi atasan, mereka harus bisa membina bawahan.
kalau mereka tidak membina dan membimbing yang merupakan salah satu tugas mereka, apakah mereka juga bisa dikategorikan melanggar disiplin?
mak-dar-it, mendingan lebih enak jadi staf dan ditegur dan tidak nggerundel (tapi susah yeee......), dari pada tidak disiplin.
ini aku ngenet di waktu kerja (ngecek email, browsing, dll dkk) apa ga disiplin? belum ada ketentuannya lho... tadi la wong, kepala direktoratnya juga menyarankan untuk selalu update info dan memang kami sering koordinasi lewat internet.
au ah gelap (^_^)
anangbs
amy ramadhani
comment:
klo g mau dibeda2in y jgn sampe jd org yg terkenal dkntor.
coba km bandingin (maaf y tdk bmksud menyinggung siapapun).
cthny ni:
si A plg sering dsuruh ini itu ma atasannya. y mgkn krn lebih cpet kerjaannya, lebih bgs kerjaannya ato krn lebih pengalaman jd lebih bs dipercaya drpd si B. klo si A itu g nongol2 dkntor, sering kluar tanpa alasan g jelas ato sakit pasti ditanyain kmana aja tuh anak.
tp klo si B, y blm tentu atasannya inget.bs jg krn km sering bgt kliatan dkntor, wira - wiri mulu jd klo km g kliatan dkit pasti ada yg aneh.
cth lg ni:
si A ruang kerjannya dket ma atasan tp si B engga. jd klo A kluar masuk pasti kliatan palagi kntornya kecil.
nah klo si B, mo masuk/engga jg blm tentu ketahuan krn ruangnya dibelakang jauh dr atasan&jrg dilalui ato dmasukin org.
saranku:udahlah trima aj. g bs km menuntut atasanmu utk adil ma tiap org krn manusia kan punya byk keterbatasan&ada konflik kepentingan satu ma yg laen.
anggap aja saat itu km lg apes jd dmrhin ddepan byk org cuma gara2 pake selop. mgkn pada waktu itu atasanmu jg lg stres, bete jd tumpahin kekesalannya k km.
tenang bro, yg mengalaminya mgkn bkn cuma km..okay.
yusuf ntjups
comment:
Bisa!
Hehehe.... kayaknya atasan tidak langsungnya mas imam kudu dipindah ke Pontianak deh, kemaren soalnya kasetlan (ketua panitia) kita waktu rapat panitia cuek2 aja pake sendal jepit tapi kalannya jg cuek bebek tuh..hehehe. ..;p
dony rahadhian
comment:
klo gitu atasan tidak langsung kang mas imam jangan sampe dech dipindah k palangka.... abis....aku kan jarang (hampir g pernah pake sepatu klo ngantor..... .paling2 klo mo ngadep kalan aja.....setiap hari cukup pake jepit yang dah aku gambarin bibir senyum di atasnya (abis klo g digambarin gitu sering ilang.....) itu pun dah sukur pake jepit kadang2 juga q lompat dari meja satu ke meja lain nyeker...... .........
...ya dah tabahkan hatimu mas imam........ tabahkan hatimu.....
yanar achmad
comment:
boeat immammers... .,
keharusan disiplin kadang hanya dan cuma berlaku buat golongan muda saja, beliau-beliau yang senior (kalo ga mau disebut sudah lebih berumur dan puluhan tahun mengabdi) penuh dengan ampunan (dengan berbagai alasan) jika belum (?) disiplin.
disiplin sebagian dari iman.

Saturday, October 18, 2008

Bisakah kita Disiplin...?

Hari Jumat (17/10/08) kemarin, saya ditegur atasan "tidak langsung" saya (apa ya bahasanya atasan daripada atasan langsung saya). Gara-garanya saya pake sepatu selop waktu ada acara makan-makan habis Jumatan... Saya disuruh ganti sepatu. Karena saya bawahan, ya saya ganti sepatu, karena memang saya bawa sepatu cuma pas abis Jumatan itu sepatu belum saya pake lagi, tapi saya pake selop. Saya pikir gak masalah lah ada acara makan siang saya gak pake sepatu. Asal jangan pake sandal jepit atau malah nyeker. Tapi kenyataan berkata lain. Saya pun ditegur untuk ganti sepatu. Meski saya ganti sepatu, tapi itu berpengaruh pada nafsu makan saya. Seketika itu juga nafsu makan saya turun. dan gak semangat lagi ikut acara makan-makan itu.
Sebenarnya gak masalah sih seorang atasan menegur bawahan. Dan itu sebagai bagian saya untuk instropeksi diri. Mungkin mulai esok saya akan berusaha untuk memakai sepatu yang bukan selop.
Tapi ada hal lain yang menggelitik saya. Kadang kita merasa kok ya bersalah banget sampe ditegur sedemikian rupa. Padahal... ada beberapa dari temen saya yang bahkan melanggar kedisiplinan paling berat (korupsi waktu) tapi gak sampe ditegur di depan umum gitu. Ada beberapa dari teman saya yang sering gak masuk kantor tanpa alasan jelas kepada atasan. Ada beberapa dari teman saya yang sering meninggalkan jam kerja tanpa alasan jelas kepada atasan. Ada beberapa dari teman saya yang saat jam kerja malah main bulutangkis.
MEREKA GAK PERNAH DITEGUR...
Padahal, saya meski sering berselop, saya berusaha tepat waktu ada di kantor. Tepat Waktu pulang dari kantor (bahkan lebih).
Mana ya yang URGENSInya lebih penting:
Disiplin Pakai Sepatu atau Disiplin Hadir Tepat Waktu dan Bekerja optimal dalam jam kerja.?
Kalo memang Hal pertama yang urgensinya lebih penting, berarti boleh dong kita gak ngerjain pekerjaan kita, mangkir, telat, bolos.... Yang penting PAKE SEPATU...
Jika aturan disiplin ditegakkan secara adil ke semua hal, maka saya pun akan siap menerima hukumannya bila melanggar masalah sepatu. Tapi jika pelanggaran disiplin atas jam kerja dan kehadiran tidak ditegur sebagaimana saya ditegur gara-gara gak pake sepatu... Saya merasa diperlakukan tidak adil. Meski menerima (karena saya sadar saya juga salah) tapi tetep aja Ndongkol....
Astaghfirullah.... ampuni dosa hamba-Mu ini ya Rabb...

Tuesday, May 08, 2007

[ngompol:ngomong politik] Reshuffle Jilid 2


Presiden SBY hari Senin (7/5) sore mengumumkan para menteri baru dan yang dipindah posisikan.
Berikut adalah para menteri baru dan menteri yang pindah posisi (urut dari kiri ke kanan).
Menteri yang baru:
  • Menteri Hukum dan HAM - Andi Mattalata
  • Menteri Komunikasi dan Informatika – Muhammad Noeh
  • Menteri Perhubungan - Jusman Syafii Djamal
  • Meneg Pembangunan Daerah Tertinggal - Mohammad Lukman Edi
  • Jaksa Agung – Hendarman Supandji

Menteri yang pindah posisi:

  • Meneg Badan Usaha Milik Negara -Sofjan Djalil
  • Menteri Sekretaris Negara - Hatta Rajasa

Masa kerja kabinet tinggal tahun (apa malah 1,5 tahun lagi ya?) semoga yang mendapat amanah bisa bekerja sebaik mungkin. Tapi kalo menurut pendapatku sebagai orang biasa, kenapa menteri yang sakit tidak diganti saja? seperti posisi Mendagri yang berhalangan sementara karena pak Menteri sedang sakit, bukankah lebih efektif kalo ingin mengoptimalkan kinerja kabinet diganti dengan orang yang bisa menjalankannnya sampai dengan masa kerja Kabinet Indonesia Bersatu berakhir? (Tahun 2009) Oh ya, di masa kabinet Ibu Mega juga Pak Matori (menhan) juga sakit s.d masa jabatan kabinet berakhir.

Kan posisi Mendagri sangat strategis, terutama dalam pengelolaan keuangan daerah. Jangan sampai menterinya sakit trus banyak hal-hal yang penting terabaikan. Tapi, kenapa juga ya di Indonesia kayaknya biasa banget seperti itu. Pas Pak Menteri sehat aja bisa keluar PP 37 Tahun 2006 yang kontroversial, apalagi kalo leadernya sakit.... semoga saja tidak terjadi blunder. Amin.

Btw, kenapa Pak Ical (Menkokesra) gak diganti ya? Kan ada hubungannya dengan Lapindo Brantas yang telah menenggelamkan sebagian Sidoarjo karena kelalaian Perusahaan itu? Yah, semua kan hak prerogatif Pak Presiden, semoga reshuffle-nya didukung dengan Shalat Istikharah. Jadi keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik.

Buat Kabinet Indonesia Bersatu (Resshuffle II) Selamat Berjuang Semoga bisa menyejahterakan rakyat Indonesia. Amiin....

*tapi jangan memanfaatkan jabatan untuk PEMILU 2009 ya!!!

Dah ya, kapan-kapan kita ngompol lagi (ngomong politik, red)

Saturday, February 03, 2007

budaya jelek

Selamat menikmati Gaji Baru kepada para PNS di seluruh Indonesia. Tapi aku mau ikut prihatin dengan proses cairnya uang kenaikan gaji.
Sahabat, memang Indonesia itu penuh dengan budaya jelek, salah satunya budaya ini:
"Kalo bisa diperlama kenapa dipercepat...?"
"Kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah...?"
Tujuannya ya tentu tak lain tak bukan agar ada upaya-upaya "khusus" untuk mempercepat proses itu.
Kejadiannya beberapa hari kemarin, ketika aku dan teman-teman menerima rapel kenaikan gaji selama 2 bulan (Januari dan Februari), yang meski cuman sekitar 200ribu, ternyata ada "iuran sukarela" untuk pihak pencair gaji tersebut (KPPN, red). Mmmh... kenapa kami harus membayar untuk sesuatu yang merupakan hak kami? Kata bagian keuangan kantor kami, karena kalo gak dikasih gak bakalan cepet dicairin...
Nah Lho, terus jadi muncul pertanyaan lanjutan, kenapa kami mesti membayar untuk hal yang sudah merupakan tugas oknum2 tersebut? Bukannya negara udah membayar mereka untuk tugasnya itu, dan bukannya ditambah dengan berbagai tunjangan... Apalagi sekarang Kantor mereka bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, ada kata Pelayanan...
Pelayanan, berarti melayani. Bekerja sepenuh hatilah untuk melayani, bukan karena pelicin, sumbangan, or semacamnya.
Kalo seperti ini, apa gak sebaiknya KPPN diganti KAPN (Kantor Agen Perbendaharaan Negara), jadi kita emang mesti bayar untuk mendapatkan jasanya...Gileeeeee
Tapi ya udahlah, akhirnya dengan tidak ikhlas (maaf ya...jadi tidak barokah tuh duit yang kusumbangin ke para peminta) aku kasih Rp1.600,00 (yah, daripada banyak tapi tidak ikhlas masih mending tidak ikhlasnya sedikit aja...)
Kata beberapa teman, masih untung di sini gak ditetapin harus bayar berapa, tapi kata temanku itu ada daerah yang uangnya itu langsung ditetapkan berapa besarnya dan ada yang lebih kejam bisa langsung dipotong dari yang harus diterima. Gileeee....
INDONESIA....
Pantas Negeri ini tidak bisa menunjukkan kemajuan Signifikan dalam pemberantasan KKN...
Yups, karena adanya budaya jelek seperti itu yang terus berjalan bertahun-tahun...bahkan kalo nanti Indonesia memasuki Usia 1 abad, aku khawatir, jangan-jangan budaya jelek itu juga bertahan selama seabad itu...
Ya Rabb, jauhkan kami dari yang HARAM...
Ya ALLAH, berikanlah kepada kami hal-hal yang HALAL dan BARAKAH...
Amiin