Showing posts with label gorontalo. Show all posts
Showing posts with label gorontalo. Show all posts

Friday, August 17, 2012

perpisahan

hari ini adalah hari terakhirku di Gorontalo. SK Mutasi sebenarnya mengharuskanku pindah sebulan sejak ditandatanganinya SK itu. SK bertanggal 31 Mei itu seharusnya mengharuskan aku per Juli udah harus ada di BCF Jakarta. Namun aku yang memang gak ada persiapan mutasi meminta kepada bos BCF Gto buat menunda kepindahanku sampe akhir lebaran.

dan hari terakhirku di Gorontalo ini adalah upacara bendera, 17 Agustus 2012. Aku masih ingat pertama kali dipindah ke Gorontalo, hari pertamaku juga upacara. Upacara HUT BPK Bulan Januari 2008.

diawali dengan upacara dan diakhiri dengan upacara.

tidak ada perpisahan khusus buatku karena siapa sih aku ini hehehe, semua biasa-biasa aja. cuman acara buka bersama subaud tgl 16 agustus yang sekalian dijadikan acara perpisahan dengan teman-teman. khusus subaud. Thanks to my all frens...

yah mungkin sedikit beda dengan perpisahan Uda, Ummu, dan Cryo yang diadain di Restoran Samudera Indah maupun di Hotel Milana. mereka adalah teman-teman yang hebat. jadi memang haruslah dibuat berkesan acara perpisahannya.

yup. kini telah di jawa. semoga berkah. memulai hidup baru. semoga berkah. semoga berkah. Amiin ya ALLAH....

Thursday, May 31, 2012

Akhir Mei yang Galau...

Sudah jadi rahasia umum, kalo SK mutasi yang datangnya tiba-tiba itu membikin galau. Yah, di BCF ini, memang banyak tidak pastinya daripada pastinya hehehe, begitulah guyonan teman-teman pegawai se-BCF ini....

Mutasi, saya percaya suatu saat pasti datang padaku. Bahkan saya selalu mempersiapkan jika suatu waktu pindah ke tempat baru. Dan bulan mei ini, memang sudah saatnya SK Mutasi itu keluar sesuai SK Sekjen yang memang mengatur perpindahan pegawai 2 kali setahun, yap Mei dan Oktober. Dan kadang bisa bergeser Juni - November. Tapi yang pasti ada SK Mutasi 2 kali dalam setahun.

Saya dah merasakan bahwa tahun 2012 ini saya pasti kena, apalagi AO seorang sahabat telah memberikan #kode bahwa tahun ini saya kemungkinan besar pindah. Dan saya pun sudah berusaha mempersiapkan diri perpindahan saya ke daerah lain di luar jawa lainnya. Karena saya sadar, pindah ke Jawa tuh bisa jauh dari harapan kalo tidak melakukan permintaan sendiri. Cuman berharap dan berdoa bahwa saya tidak dimutasi ke timur lagi hehehe....

Dan tanggal 31 Mei ini.... saya lagi makan di luar sama Anggi, di warung Bakso dan Mie Ayam Pasngsit Solo Mas Agung. Di jalan Agus Salim dekat perlimaan Telaga. Pesan menu favorit : "Tahu Kupat". Sudah terbayang kelezatannya karena perut yang lapar karena pagi tidak sarapan. Tahu Kupat pesanan pun datang. Sementara Anggi sudah melahap nasi dan Ayam Gorengnya. Tiba-tiba ada telpon masuk, nomor mentari. Tapi aku tahu itu nomornya AO meski belum kesimpen di Blackberry-ku (maklum males banget mindahin phonebook sejak ganti gadget). Kata pertama dari AO, "Jakarta". Terus terang aku belum mudeng, maksudnya apah? Iya aku tahu si AO memang di Jakarta, gak usah dikasih tahu juga aku tahu. Tapi ternyata maksudnya ,"Kowe pindah Jakarta Mam..."

"JLEGERRR"....

AO bilang kalo aku dimutasi ke Jakarta, pastinya di unit kerja mana aku gak tahu. Kalo AO belum tahu, aku berharap ajah kalopun ke Jakarta aku berharap bukan di unit kerja Perwakilan DKI Jakarta. Bukan apa-apa ritme kerja yang mungkin lebih berat kudengar ada di Perwakilan DKI Jakarta.

Bagaimana nasib tahu kupat? Tahu Kupat yang kubayangkan akan tandas dalam sekejab... tidak berasa, dan akhirnya kuputuskan untuk dibungkus aja. Mendadak kenyang. Sambil menunggu Anggi selese makan... aku cari info dari teman-teman yang sudah mengunduh salinan SK di web internal BCF. Dan... hasilnya... memang aku harus bertugas di tempat baru: Perwakilan DKI Jakarta.

Nah, inilah Akhir Mei yang bikin galau. Dan okelah mari kita nikmati SK Mutasi ini. Harus bersyukur bisa dipindah ke Jawa tanpa meminta. Relatif dekat dengan kampung halaman keluarga, dan tak harus perlu tiket pesawat udara. Cuman harus memikirkan tempat tinggal buat keluarga. Dan itu saja yang bikin galau. Inilah, SK ini harus dihadapi dengan semangat, dan bersyukur kepada Alloh SWT. Insya Alloh, nanti akan dimudahkan oleh-Nya... Amiin....

Bismillah... semoga kegalauan ini cepat berakhir !!!!

*nb: yang punya info kontrakan representatif dekat Tebet/ Cikoko boleh dibagi hehehe :)


Monday, December 12, 2011

[gorogorostory] 3 : jangan beli rokok 1 slop

Kejadian ini terjadi di Tilamuta, ibukota Kabupaten Boalemo di Provinsi Gorontalo. Ketika itu temen-temen auditor BCF sedang melakukan audit pemerintahan. Kebetulan saat itu supervisor audit datang untuk mereview pekerjaan temen-temen. Kebetulan supervisor adalah perokok berat dan kebetulan pula di tim audit tidak ada yang merokok. Maka akhirnya 2 orang temen auditor beli rokok di sebuah toko di Tilamuta. Biar tidak usah beli berkali-kali maka diputus beli rokok (sebut aja Rokok X) sebanyak 1 slop sekalian.

Setelah sampai tokonya, terjadilah percakapan:

Auditor (A) : Tante, ada Rokok X???
Tante (T)   : Ya ada....
A              : Berapa sebungkus??
T              : 10.500....
A               : Kalo beli 1 slop berapa?
T              : Eh, tidak boleh kalo beli 1 slop....
A              : Tapi kita mau beli sekalian 1 slop Tante....
T              : Tidak boleh....
A              : Kalo beli lebih 1 bungkus boleh?
T              : Boleh....

akhirnya temen auditor itu menemukan solusinya.

A               : Tante beli 10 bungkus deh...
T               : jadi 100.500....
A               : Iya Tante, ini uangnya....

akhirnya pun rokok dibayar. Dan kebetulan stok rokok yang diluar slop tinggal 1, jadi Tante tersebut membuka slop dan mengambil 9 bungkus rokok. sisa 1 rokok dipajang.

A               : Tante, itu kardus rokok (1 slop)-nya saya minta deh...
T               : ambil jo...

temen auditor itu pun mengambil kardus rokok 1 slop dan memasukkan 10 bungkus rokok ke dalamnya. beres.

Begitulah, untuk beli 1 slop rokok diperlukan tips dan trik khusus. Untuk beli 1 slop rokok aja perlu waktu banyak. hahahaha... inilah gorogorostory, cerita dari Gorontalo.....

Saturday, May 01, 2010

Friday, April 30, 2010

[gorogorostory] 2 : Kartu Askes....

Suatu ketika, Sronto (bukan nama sebenarnya,Red) yang sedang tugas audit sakit dan dibawa ke RS Aloei Saboe (RSAS) di kota Gorontalo oleh temannya yang bernama Amel. Sampe di sana ternyata Sronto diperiksa dan dinyatakan kena gejala tipes dan harus diopname. Nah karena Sronto ini PNS, dan dia ikut Askes maka Sronto yang ditemani Amel bilang ke pegawai rumah sakit bahwa pengobatan Sronto pake Askes. Dan disetujuilah bahwa Sronto dirawat inap di rumah sakit dengan menggunakan Askes. Karena kamar rawat inap kelas 1-3 full maka mas Sronto dirawat di kamar VIP, tentunya dengan memperhitungkan kelebihan biaya antara fasilitas yang dibiayai askes dengan yang sebenarnya.
Untuk pengurusan askes, maka Sronto menyuruh Amel mencari kartu Askesnya di kamar kosnya. Dan setelah dicari, ternyata Amel gak menemukan kartu itu. Sronto baru inget bahwa kartu itu sepertinya ketinggalan di Jawa saat dia pulang kampung beberapa waktu sebelumnya. Sronto pun menelepon keluarganya dan menanyakannya. Ternyata benar. Kartunya ada di rumah Sronto yang ada di Jawa. Karena mendesak maka Amel pun mencari alternatif solusi agar pengurusan administrasi Askesnya cepat. Salah satunya adalah dengan mengambil kopian Kartu Askes Sronto di administrasi kepegawaian kantornya. Setelah dapat, Amel segera menyampaikannya ke petugas askes di RSAS. Tapi apa jawaban petugasnya?
Petugas : "Harus yang asli Bu...."
Amel : "tapi yang asli di Jawa Bu... Apa kita harus pulang ke Jawa? Biayanya mahal, bisa lebih mahal daripada biaya pengobatan yang dibiayai kartu askes"
Petugas : "oh, kalo begitu tolong di-fax aja kartu askes yang di Jawa...!!"
Amel : "di-fax...???" (bengong...)
Petugas : "iya di-fax aja ke nomor fax rumah sakit ini....."
Amel : "Iya, baik Bu...nanti akan di-fax...."
Hayo pembaca, kenapa Amel sempet bengong...??? ya bengong lah, lah apa bedanya fotokopian kartu askes dengan kartu askes yang di-fax.... malah bisa lebih jelas yang fotokopian daripada yang fax-fax-an..... hehehehe.... Tapi ya udahlah, daripada berdebat terus dan gak slese-slese akhirnya dipenuhilah saran dari pegawai itu... dan Alhamdulillah Sronto segera sembuh dan cuman 3 hari di RSAS...
Kalo inget cerita ini jadi pengen ketawa terus... kenapa sih hal-hal aneh ini bisa terjadi... padahal sebenernya hal yang mudah gitu kok dibikin sulit....

Wednesday, April 21, 2010

Ketika Istri Bertarung Melawan Suami

Re-post berita menarik dari Kompas.Com
Senin, 19 April 2010 04:29 WIB

Wajah Ruwaida Mile (57) tampak berseri-seri. Padahal, Kamis (15/4) siang itu ia baru saja menjalani tes kesehatan yang melelahkan selama hampir lima jam untuk memenuhi persyaratan sebagai calon bupati Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. ”Saya senang sekali bisa mengikuti tes ini,” katanya.

Siang itu, Ruwaida ditemani anaknya, Hamdi. Keduanya tengah berkemas untuk pulang seusai makan di sebuah ruangan di Rumah Sakit Aloei Saboe, Kota Gorontalo. Ketika sejumlah wartawan mendekati dan meminta untuk wawancara, Ruwaida menantang, ”Silakan, mau tanya apa?” Ruwaida sadar, pers menjadi salah satu pilar untuk mendongkrak popularitas dalam pencalonan pilkada 5 Juli nanti.

Pencalonan Ruwaida bersama pasangannya, Haris Hadju, sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati Bone Bolango cukup menghebohkan masyarakat setempat. Pasalnya, Ruwaida menantang suaminya, Ismet Mile. Ismet, yang calon petahana (incumbent), lebih dulu mendeklarasikan diri sebagai calon bupati, didampingi Ibrahim Dau.

Dalam masyarakat Gorontalo, jarang ada istri melawan suami di depan publik. ”Tetapi, inilah politik, semuanya bisa terjadi. Istri bisa saja melawan jika merasa dianiaya,” kata Imran Nento, aktivis lembaga swadaya masyarakat Merdeka Gorontalo.

Mengenai pencalonan sang istri, Ismet Mile hanya berucap, ”Itulah demokrasi, tidak ada yang bisa melarang.” Ismet enggan berbicara mengenai sikap istrinya. Ia hanya duduk diam di antara tujuh pasang calon bupati dan wakil bupati lainnya. Meski beberapa kali berpapasan dengan Ruwaida di ruang pemeriksaan, keduanya tidak bertegur sapa.

Sama-sama ketua partai
Suami-istri itu adalah ketua partai politik setempat yang sama-sama sukses pada Pilkada Legislatif 2009. Ruwaida adalah Ketua Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang meraih empat kursi, sedangkan Ismet adalah Ketua Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) yang juga meraih empat kursi. Di DPRD Bone Bolango ada 25 kursi.

Ruwaida berkisah, awalnya ia tak terpikir menjadi calon bupati, apalagi menantang sang suami. Ketika suaminya, Ismet Mile, melakukan deklarasi tiga bulan lalu, ia pun ikut naik panggung. Sang suami malah mengatakan, antara PDK dan PKNU menjadi koalisi besar dalam pilkada.

Namun, dalam perjalanan waktu, pada pertengahan Maret lalu, Ruwaida maju sendiri. Katanya, atas permintaan masyarakat, terutama tiga putranya. Hubungan kurang harmonis dalam rumah tangga menjadi salah satu alasan Ruwaida maju.

”Bapak sempat marah besar ketika saya deklarasi. Tetapi, menjadi bupati kan tidak harus ada izin suami. Ini berbeda kalau suami kawin lagi, ya, harus ada izin istri,” katanya.

Bagai gayung bersambut, pencalonan Ruwaida mendapat sambutan dari masyarakat. Ratusan warga memadati setiap pertemuan yang diadakan Ruwaida, terutama kaum perempuan. ”Ke mana-mana, Ibu Ruwaida selalu menangis. Ibu Ruwaida merasa terluka karena dikhianati,” kata Ratna, warga Iloheluma, Bone Bolango.

Belakangan, Ruwaida merasa sakit hati ketika ”jabatan” dia sebagai Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Kabupaten Bone Bolango dicopot oleh sang suami, diikuti penarikan mobil dinas Kijang Innova. Mobil dan jabatan itu kemudian diserahkan kepada Yayuk, istri kedua Ismet. (Jean Rizal Layuck)

Saturday, April 03, 2010

[gorogorostory] 1 : Gado-Gado Ulek Tanpa Ketupat

Suatu malam di Tahun 2009 di sebuah tempat makan serba ada di Kota Gorontalo -sebut saja di Kefesere- empat orang makan malam di situ yakni aku (eR), Uda, Asrul, dan Treivi. Saat pelayan datang, aku memesan Gado-Gado Ulek tanpa ketupat (karena di daftar menu satu paket sama ketupat) trus sama pesan nasi putih 1 piring (soalnya lagi pengen makan nasi). Dan pelayan pun mencatatnya di daftar pesanan. Teman-teman yang lain memesan makanan yang lain.
Dan beberapa saat kemudian makanan dan minuman yang dipesan pun datang. Dan sang pelayan yang tadi melayani kami mencatat menu tiba-tiba berkata kepadaku:
Pelayan : "Maaf Pak, tadi bapak pesan Gado-gado ulek tanpa ketupat?"
-eR- : " Iya..., gak ada ya???"
Pelayan : "Ada Pak. Tapi gado-gado uleknya tinggal satu. Dan itu sudah satu paket sama ketupat."
-eR- : "Iya, saya pesan gak pake ketupat..."
Pelayan : "Maaf Pak, Gado-gadonya sudah di piring sama ketupat, jadi harus pake ketupat Pak..."
-eR- : *bengong mode on* "Lah iya, saya pesen tanpa ketupat aja.... Saya kan sudah pesan nasi putih"
Pelayan : "Tapi itu sudah satu paket Pak..."
Hahaha.. akhirnya Uda ikut bicara:
Uda : "Itu Gado-gado sudah ada ketupatnya?"
Pelayan : "Iya Pak..."
Uda : "Nah itu ketupatnya bisa kamu pindah gak ke piring lain, ke tempat lain atau dipindahkan kemana aja gitu...?"
Pelayan : "Oh iya Pak...."
Uda : "Nah setelah ketupatnya dipindah semua, gado-gadonya aja yang kamu bawa kemari... ketupatnya gak usah dibawa kesini... Bisa...???"
Pelayan : "Bisa Pak..."
Uda : "Nah, beres kan...?"
Pelayan : "......." (gak bisa ngomong lagi hehehe)
Setelah kejadian itu, kami tertawa ngakak... Aneh banget. Hal yang gampang seperti itu tapi dibuat susah. Harus sabar hidup di Gorontalo hehehe,....
Ini cuman salah satu cerita lucu dan aneh dari Gorontalo, selain ini masih banyak cerita yang lucu dan aneh lagi... semoga aku ada kesempatan membaginya kepada para sahabat...:p

Friday, April 02, 2010

kembali ke Liana....

mmh.... tadi malem istri periksa kandungan ke dokter Maimun yang berpraktek di Apotik Liana. Ternyata, setelah aku sadari, bulan april ini tepat 2 tahun setelah terakhir istriku periksa di dokter Maimun... Yaps, dulu pas hamil Mas Fathan, istriku periksa terakhir Bulan April 2008, dan Mas Fathan lahir Bulan Mei 2008. Dan tadi malam, istriku kembali periksa. Meski dapet nomor urut 1 (hehe daptarnya sejak pertengahan Maret) tapi tetap aja baru bisa diperiksa jam 7-an. Maklum, ada pasien yang mau operasi jadi didahulukan pemeriksaannya. Dan setiap harinya pasien dokter Maimun sampai 60-an orang. Dan bisa sampe jam 1 malem buka-nya. Mungkin karena Dokter Maimun satu-satunya dokter kandungan yang Muslimah. Jadi banyak yang merekomendasikan ke dokter Maimun untuk memeriksa kandungan dan masalah kewanitaan.
Dan saat di-USG, Subhanallah... ternyata adiknya Mas Fathan dah keliatan besar. Padahal menurut dokter baru 2,5 bulan. Padahal dulu pas hamil mas Fathan usia 2-3 bulan dalam kandungan aku belum pernah melihat sejelas seperti yang tadi malam.
Alhamdulillah ya ALLAH, Engkau karuniakan kepada kami anugerah yang indah, dan mudahkanlah kami untuk dapat menjaga dan merawatnya. Amiin.
Kata Bu Dokter, perkiraan HPL adiknya Mas Fathan sekitar tanggal 26 Oktober 2010 (+- 10 hari), jadi kemungkinan rencana persalinannya di Jawa, karena kami sekeluarga ingin berlebaran di Jawa. (Dah kangen berlebaran di Jawa setelah 2 tahun berturut2 berlebaran di Gorontalo).
Semoga rencana kami lancar dan mendapat kemudahan dari ALLAH SWT. Amiin....

Monday, January 18, 2010

Friday, November 20, 2009

Elnino....

Setidaknya ada contoh yang patut ditiru tentang kesederhanaan dan kebersahajaan dari seorang Tokoh di Gorontalo. Semoga menjadi inspirasi yang baik bagi kita semua. Met berjuang Bung Elnino....

Kemewahan yang Menggoda Senayan

Senin, 16 November 2009 03:15 WIB


Sutta Dharmasaputra

Tidak mudah menjadi wakil rakyat. Baru sebulan duduk di Senayan, godaan sudah datang segunduk. Pendirian yang tak benar-benar kuat, pragmatisme bisa melumat. Kesederhanaan tidak laku, kemewahan malah nomor satu.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Provinsi Gorontalo, Elnino Mohamad Husein Mohi, merasakan itu. Belum sampai sebulan dilantik, aktivis dan bekas wartawan itu mengaku sudah mendapatkan banyak cobaan.

Oleh karena belum memiliki mobil, sebulan ini ia datang ke gedung DPR/DPD/MPR di Senayan dengan taksi. Pengalaman menarik pun dialaminya. Begitu taksi masuk pos penjagaan, seorang petugas langsung menghentikannya. ”Mau ke mana, Pak?” tanya petugas. ”Saya mau ke DPD,” ujar Elnino.

Petugas itu lalu bertanya lebih jauh, ”Ada keperluan apa?” Elnino pun menjawab, ”Mau rapat, Pak.”

Tak mengira Elnino sebagai anggota DPD, petugas itu pun langsung memerintahkan taksi itu segera parkir. ”Mobil tamu di sebelah sini parkirnya, Pak,” kata petugas itu.

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Elnino pun menunjukkan pinnya. ”Saya mau sidang, Mas,” ucapnya.

Petugas itu langsung memberi hormat dan mempersilakan taksinya masuk. ”Jadi, cuma pin kecil ini yang dihormati di Senayan,” kata Elnino, sambil tertawa, saat berbincang-bincang dengan Kompas di kediamannya, pekan lalu.

Pengalaman pahit itu bukan hanya terjadi sekali. Saat hendak mengisi daftar hadir untuk Rapat Paripurna MPR, seorang petugas pun mengira dirinya sebagai staf ahli karena tidak berjas. ”Dari provinsi mana? Namanya siapa? Mana bapaknya?” ucap petugas itu.

Elnino yang bergelar master manajemen politik dari Universitas Indonesia itu pun langsung menjawab ringan. ”Saya ini memang tidak ada tampang jadi pejabat, ya?” ujarnya.

Sang petugas pun langsung memohon maaf.

Saat mengurus uang tiket untuk pelantikan MPR lebih lucu lagi. Karena mengurus administrasi sendiri, begitu hendak menandatangani tanda terima, petugas langsung bertanya kepadanya. ”Bawa surat kuasanya, Pak,” tanya petugas itu.

Menurut Elnino, kalau pada masa lalu syarat seorang menjadi pemimpin itu harus berkorelasi dengan kecerdasan dan akhlak, saat ini tampaknya sudah berubah. ”Sekarang itu rupanya harus berbanding lurus dengan kekayaan,” ujarnya sambil tertawa.

Tuntutan penampilan pun dirasakan anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Malik Haramain. ”Jika dulu tidak berjas, sekarang mau tidak mau harus berjas,” ucapnya. Ia sebelumnya menjadi staf ahli di DPR.

Oleh karena pada masa kampanye Pemilu 2009 ia harus menjual mobil sedan tuanya sebagai modal, gaji pertamanya pun akan digunakan untuk membeli mobil. Tentunya, tidak lagi membeli sedan tua, tetapi Honda Stream.

Menurut Malik, ia pun harus menggunakan penghasilan yang diterimanya dengan sebaik-baiknya karena proposal pun langsung menumpuk. Tanggung jawab makin besar.

Seperti halnya Malik, Elnino pun berencana mengkredit mobil Toyota Innova. Tetapi, godaan juga datang. Seorang rekannya mendorong dirinya untuk membeli mobil lebih mewah karena kini menjadi tokoh nasional.

”Dinda kamu itu pintar. Cuma kita ini, kan, sudah jadi tokoh nasional. Nanti kita cari duitlah. Nanti kita cari proyek kebijakan Rp 100-an miliar. Cuma kalau urus itu harus berubah penampilan, dong. Pakai Fortuner-lah, masak Innova,” papar Elnino, yang saat ini masih tinggal di Asrama Mahasiswa Gorontalo di Jalan Salemba Tengah, Jakarta.

Penentuan diri

Menghadapi godaan itu, 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD mempunyai banyak pilihan, apakah akan tergerus pada gaya kemewahan atau membudayakan kesederhanaan. Pasalnya, fasilitas yang diberikan negara memang besar.

Penghasilan rutin yang diterima anggota DPR tahun 2009, berdasarkan catatan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT), hampir Rp 60 juta per bulan. Gaji pokok dan tunjangan, setelah dikurangi berbagai potongan pajak, mencapai Rp 16,17 juta; penerimaan tunjangan lain-lain Rp 43,6 juta. Jumlah ini di luar tunjangan reses, kunjungan kerja, rapat di luar kota, dan pembuatan undang-undang.

Penghasilan anggota DPD pun kurang lebih sama besar. Uang kehormatan sekitar Rp 31 juta, tunjangan perumahan Rp 13 juta, dan tunjangan komunikasi Rp 8 juta. ”Sekitar Rp 60 jutaan. Kalau ditambah dengan tunjangan kunjungan kerja, bisa lebih dari Rp 70 juta,” tutur seorang anggota DPD.

Kalau memasuki areal parkir di Senayan periode sebelumnya memang terasa seperti ruang pajang mobil. Segala mobil mewah berjajar mentereng. Seorang doktor dari Malaysia yang belum lama ini datang ke Indonesia pun sempat terheran-heran karena di Jakarta ini banyak sekali mobil mewah. Padahal, negara ini punya utang 1,5 kali dari APBN.

Malik pun berpendapat, gaya hidup anggota Dewan pada akhirnya ditentukan oleh masing-masing. Ia mencontohkan seniornya, Effendy Choirie, yang, meski sudah beberapa periode menjadi anggota DPR, tidak bermewah-mewah. ”Choirie dari dulu mobilnya, ya, itu-itu saja,” ucapnya sambil tertawa.

Elnino punya cara lain untuk menjaga agar dirinya tidak larut pada tekanan pragmatisme. Dia menyerahkan semua penghasilan kepada Tim Sembilan. Tim itu yang menentukan berapa banyak yang layak digunakan dirinya dan berapa banyak untuk program konstituen. Pada bulan pertama ini, Elnino pun disepakati hanya menerima Rp 20 juta dari Rp 60 juta yang dia terima.

Menurut Elnino, gaji yang diterima anggota Dewan memang harus digunakan untuk kemakmuran rakyat karena gaji itu sesungguhnya berasal dari utang.

Berapa lama idealisme ini akan bertahan? Elnino tersenyum. ”Paling tidak, sebulan ini belum terkikis,” ujarnya.

Presiden pertama Amerika Serikat George Washington pernah mengatakan, setiap pemimpin harus mengalami proses penentuan diri. Pemimpin sejati melangkah pada jalurnya.


Artikel ini diambil dari sini

Tuesday, September 08, 2009

Emansipasikah???

Wah, fenomena yang terjadi di Gorontalo (Provinsi yang baru sewindu berdiri) bisa dibilang aneh… Para Istri Kepala Daerah pun sepertinya pengen eksis di dunia politik dan kekuasaan.
Bayangkan:
Istri Gubernur Gorontalo jadi Anggota DPD
Istri Bupati Gorontalo jadi Anggota DPD
Istri Bupati Boalemo jadi Anggota DPR
Istri Wakil Walikota Gorontalo jadi Anggota DPRD Provinsi
Istri Wakil Bupati Bone Bolango jadi Anggota DPRD Provinsi
Secara konstitusi memang gak ada larangan, tapi ya peran sebagai first lady masing-masing daerah mbok ya diutamakan…. Kalo fenomenanya seperti kan banyak yang su’udzon berpikiran beliau-beliau pada pengen kekuasaan …..
Semoga Anda Sekalian Bisa Mengemban Amanah Rakyat dengan Baik dan Benar…. Amiin...

Thursday, September 03, 2009

mau jadi Bang Thoyib.....????

Ramadhan ini adalah Ramadhan kedua keluargaku di Gorontalo. Dan sama seperti ramadhan kemarin, sepertinya kami tidak mudik. Gimana mau mudik kalo biaya mudiknya kurang, waktu mudiknya juga kurang... hehehe... Kalo lebaran tahun depan nggak mudik juga, sudah pantas dipanggil Bang Thoyib 3x lebaran 3 x puasa tidak pulang...
Yah mo gimana lagi, memang belum mampu tuk pulang, harus sabar dan legawa berlebaran di negeri orang. Gorontalo juga Indonesia, saudara se-Islam banyak pula di sini.... :p

Monday, April 20, 2009

kabar baik

Setelah masalah Kisruh DPT membayangi pelaksanaan Pileg kemarin ditambah postingan tentang PNS Pusat yang banyak kehilangan hak pilih, akhirnya KPU kembali menggunakan sistem domisili untuk pemutakhiran DPS&DPT Pilpres yang akan digelar Juli besok.
Dan kemarin, sudah ada petugas dari kelurahan yang datang untuk mendata (alhamdulillah sudah tidak repot2 ke Kelurahan). Karena saya dan istri sudah punya KTP sini, tinggal adikku yang belum masuk DPS karena KTP-nya masih Kebumen. Langsung deh kita minta masukkin nama adikku ke DPS...
Petugas : Loh ini kok NIK-nya beda nomornya nya dengan KTP Mbak ya???
Istriku : Lah iya, kan ini KTP Jawa....
Petugas : Tidak punya KTP sini...??
Istriku : Mas pe Adik (Adik suami saya) kan cuma kuliah di sini, jadi gak bikin KTP sini...
Petugas : Tidak ada surat pindah ???
Istriku : Lah kan udah dibilang cuma kuliah kan gak perlu surat pindah....
(Untungnya, kata-kata terakhir Istriku cuma di hati, saking keselnya....Cape Deh....!!!)

Sunday, November 16, 2008

contoh yang tidak baik...

dari Gorontalo Post:
10 Siswa SMK 1 Kota Dibekuk Pesta Miras

Terancam Dikeluarkan Dari Sekolah, Abaikan Jam Pelajaran
GORONTALO - Jam pelajaran yang seharusnya digunakan untuk belajar di kelas, sepertinya tak berlaku bagi 10 siswa dari SMK 1 Kota Gorontalo. Menghindari jam pelajaran, 10 siswa ini, kedapatan sementara mengkonsumsi minuman beralkohol yang lokasinya tak jauh dari sekolah mereka.Dibantu warga sekitar, aksi yang telah berlangsung lama ini memaksa pihak berwajib melakukan razia dan berhasil mengamankan 10 siswa tersebut bersama sejumlah barang bukti lainnya Senin (11/11) kemarin sekitar pukul 10.00 Wita. 1 diantara 10 siswa tersebut, merupakan siswi atau perempuan berinisial CF yang kini masih duduk dibangku kelas 1. 9 teman lainnya, masing masing, AM, MM, AL, MF, tercatat sementara menimba ilmu di kelas 1 dan lainnya MA, RP, RG, AK duduk dibangku kelas 2. Tak hanya itu menurut penuturan salah satu dari siswa, bahwa minuman keras yang mereka teguk tersebut termasuk minuman yang memiliki kadar alkohol diatas 10 persen yang bisa memabukan. Hal menarik lainya minuman tersebut mereka beli dengan uang saku yang mereka sengaja simpan. "Minuman yang kami minum adalah pinaraci yang kami beli dari uang simpanan kami sendiri, " ujarnya dengan polos saat berbincang.
Kejadian ini pun ditanggapi beragam oleh masyarakat, Abdulah misalnya menggangap bahwa pihak sekolah tidak becus mendidik anak didik mereka, bahkan terkesan cuek. "Sekolah yang merupakan acuan dari sekolah lainya ternyata merupakan sekolah yang kurang becus mendidik siswanya, dan kalau begini lulusannya bukan menjadi penerus tongkat estafet, melainkan menjadi sampah masyarakat," ujar Abdulah.
Pihak sekolah SMKN 1 Kota Gorontalo melalui Humasnya Nursia K, ketika dikonfirmasi Gorontalo Post juga mengakui bahwa mereka merupakan siswa dari SMKN 1 Kota Gorontalo. Pihaknya kata Nursia, kini sementara membahas dan pastinya akan menseriusi persoalan ini dengan memberikan ganjaran yang setimpal dari apa dilakukan oleh para siswa tersebut. "Para siswa itu terancam diskorsing bahkan bisa saja dikeluarkan dari sekolah kalau memang terbukti bersalah," ungkap Nursia.
Sementara itu, Kapolsek Kota Tengah Iptu Zaenal Hamzah kepada Gorontalo Post menyatakan, siswa-siswa tersebut tidak akan ditahan namun hanya mendapatkan pembinaan dengan mengkoordinasikan dengan para orang tua serta pihak sekolah yang bersangkutan, "Mereka hanya dapat pembinaan. Ini hal yang serius dan ini tak boleh terulang," ujar Zaenal diruang kerjanya, kemarin. Zaenal juga menambahkan, kejadian tersebut merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk guru selaku pembimbing dalam sekolah dan orang tua pembimbing di luar sekolah karena dengan begitu Kapolsek berharap kejadian ini tidak akan terulang. "Ini tanggung jawab kita semua," tandasnya.
Sementara itu ditempat terpisah Kepala Jaga Polsek Kota Tengah Brigadir Irwadin mengakui adanya kejadian tersebut, dimana pihaknya memergoki sejumlah siswa sedang pesta miras, berdasarkan laporan sejumlah warga. "Berdasarkan dari informasi yang kami terima dari masyarakat, kami langsung turun di tempat kejadian dan menekan para siswa tersebut bersama barang bukti berupa 2 botol pinaraci," tutup Irwadin. gpinfo

Saturday, October 18, 2008

Bisakah kita Disiplin...?

Hari Jumat (17/10/08) kemarin, saya ditegur atasan "tidak langsung" saya (apa ya bahasanya atasan daripada atasan langsung saya). Gara-garanya saya pake sepatu selop waktu ada acara makan-makan habis Jumatan... Saya disuruh ganti sepatu. Karena saya bawahan, ya saya ganti sepatu, karena memang saya bawa sepatu cuma pas abis Jumatan itu sepatu belum saya pake lagi, tapi saya pake selop. Saya pikir gak masalah lah ada acara makan siang saya gak pake sepatu. Asal jangan pake sandal jepit atau malah nyeker. Tapi kenyataan berkata lain. Saya pun ditegur untuk ganti sepatu. Meski saya ganti sepatu, tapi itu berpengaruh pada nafsu makan saya. Seketika itu juga nafsu makan saya turun. dan gak semangat lagi ikut acara makan-makan itu.
Sebenarnya gak masalah sih seorang atasan menegur bawahan. Dan itu sebagai bagian saya untuk instropeksi diri. Mungkin mulai esok saya akan berusaha untuk memakai sepatu yang bukan selop.
Tapi ada hal lain yang menggelitik saya. Kadang kita merasa kok ya bersalah banget sampe ditegur sedemikian rupa. Padahal... ada beberapa dari temen saya yang bahkan melanggar kedisiplinan paling berat (korupsi waktu) tapi gak sampe ditegur di depan umum gitu. Ada beberapa dari teman saya yang sering gak masuk kantor tanpa alasan jelas kepada atasan. Ada beberapa dari teman saya yang sering meninggalkan jam kerja tanpa alasan jelas kepada atasan. Ada beberapa dari teman saya yang saat jam kerja malah main bulutangkis.
MEREKA GAK PERNAH DITEGUR...
Padahal, saya meski sering berselop, saya berusaha tepat waktu ada di kantor. Tepat Waktu pulang dari kantor (bahkan lebih).
Mana ya yang URGENSInya lebih penting:
Disiplin Pakai Sepatu atau Disiplin Hadir Tepat Waktu dan Bekerja optimal dalam jam kerja.?
Kalo memang Hal pertama yang urgensinya lebih penting, berarti boleh dong kita gak ngerjain pekerjaan kita, mangkir, telat, bolos.... Yang penting PAKE SEPATU...
Jika aturan disiplin ditegakkan secara adil ke semua hal, maka saya pun akan siap menerima hukumannya bila melanggar masalah sepatu. Tapi jika pelanggaran disiplin atas jam kerja dan kehadiran tidak ditegur sebagaimana saya ditegur gara-gara gak pake sepatu... Saya merasa diperlakukan tidak adil. Meski menerima (karena saya sadar saya juga salah) tapi tetep aja Ndongkol....
Astaghfirullah.... ampuni dosa hamba-Mu ini ya Rabb...

Saturday, September 27, 2008

posting di kesunyian

27 September 2008
Ramadhan Hari ke 27, berarti Hari Raya Idul Fitri tinggal 4 hari lagi... (ya kan?). saya posting ini di kantor...alone, sendirian karena memang sudah bukan hari kerja alias sudah masuk rangkaian cuti bersama.
Lah Trus wong wis libur kok kenapa saya masih ke Kantor...? Yah, tadi pagi jalan-jalan ama Fathan, pulangnya mampir kantor. Trus saya sempetin ngenet. Karena memang di Limboto ini satu2nya akses internet yang paling cepat yang saya jumpai adalah di kantor... Lagian rugi kalo gak digunain, wong biaya langganannya (katanya Yoga) sama baik dipake atau tidak. bebas kuota critane...
Trus, ngapain ini posting? Sebenernya saya juga gak tau mau posting apa yang jelas saat ini saya lagi nyiapin lebaran di negeri Orang. Hehehe, mulai tadi malem ikut tradisi pasang lampu (Tumbilotohe), jadi tiap rumah pasang lampu dari botol bekas kratindaeng (susah amat nggambarinnya, saya bilang aja senthir/dian ya...). Nah lampu ini dipasangnya mulai tadi malem ampe besok malem lebaran.
Ya mungkin mirip lah ama desa-desa di Jawa Tengah yang pasang lampu lampion yang kertasnya merah putih itu.
Selain itu juga udah mulai nyari penganan buat sajian pas orang-orang saling berkunjung.
Ya udah, gitu aja... hehehe gak penting banget yah....
OK buat sahabat n temans semua,"MET IEDUL FITRI 1429H"
Semoga Allah SWT menerima semua amalan kita di Bulan Ramadhab dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang mendapatkan kemenangan yang Fitri...

Monday, September 22, 2008

Jalan Jalan ke Menara Keagungan

Ini pose Fathan dengan mobil-nya...(hehehe)
Karena Dik Fathan sudah punya mobil baru (stroller) di rumah, jadi hari Sabtu tanggal 20 September kemarin kita ajak jalan-jalan ke Taman Menara Keagungan...

Jarak dari Rumah ke Menara cukup jauh, kita naik motor dulu ke Kantor. Titip motor di Kantor trus lanjut deh.... walking to Menara Keagungan...
Ternyata... asyik juga jalan-jalan pagi. Ditambah Taman-nya sepi, jadi kliatan Asri. Heran, pagi-pagi Ramadhan kok sepi...kalo di Jawa pasti rame terus...

Saturday, January 26, 2008

hari terakhir di Manado

Akhirnya, setelah sekian lama tidak jelas statusku di kantorku Manado, tibalah panggilan dari kantor Gorontalo yang meminta kami semua yang statusnya pindah ke Gorontalo untuk segera ke sana, karena tuntutan tugas...
Kami putuskan, hari Sabtu, 26 Januari 2008 ini ke Gorontalo.... memulai tugas di kantor baru hari Senin esok. Doa dan support dari teman-teman semua sangat kami harapkan, agar aktivitas "bekerja itu ibadah" lancar dan berkah. Amiin....
bye-bye Manado....
Gorontalo (Limboto) I'm Coming....

Sunday, January 20, 2008

saat kita berdecak kagum



Subhanallah....

gambar ini aku ambil saat tugas periksa jalan di Kabupaten Pohuwato... tepatnya di desa apa aku lupa, yang jelas meski bekerja sampai senja, tapi rasanya damai melihat pemandangan dari atas bukit. Senja yang indah....

Thursday, January 17, 2008

bersiap berpindah

akhirnya bisa ngisi blog ini lagi juga...

soalnya kadang login error, internet lelet. Gak cuma blogger aja yang lelet... yahoomail juga error mulu... ternyata bisa masuknya pas orang2 kantor dah pada pulang...

beberapa hari kemarin aku berangkat ke Limboto, tujuannya nyari rumah, karena rencana awal Februari dah mulai tugas di sana...

Setelah mencari-cari sekian hari... akhirnya aku dapet juga rumah yang kiranya cukup layak untuk kutinggali. meski di pedesaan tapi kelurahannya masih sama dengan kantorku di sana. Harganya cukup murah jo, 3juta per tahun plus perabot n renovasi beberapa yang rusak ringan.

Mudah-mudahan... nyaman untuk ditinggali dengan tetangga kanan kiri yang nyaman juga. Amiin.