Thursday, November 25, 2010

Yumna...

Yumna namanya, Fathiya Yumna Erdhiya lengkapnya. Tapi kami lebih suka memanggilnya Iyum... lucu kesannya. Tanggal 23 Oktober kemarin hadir ke dunia, dari rahim seorang Bunda Nawadela. Dan ayahnya, baru sempat melihatnya melalui layar telepon genggamnya. Sungguh, bukan bermaksud mengabaikannya, atau tidak mau membelainya....
Sungguh, tangan ini terasa gatal, ingin membelainya. Dan indra penciumanku pun sudah ingin membelai wanginya. Menimangnya, agar dia nyaman.
Maafkan ayahmu ini Nak, karena tugas yang belum bisa ditinggalkan dan juga recehan yang belum cukup untuk menjemputmu kemari bersama Bunda dan Mas mu yang ganteng Fathan Ahmad Erdhiya. Insya Allah, akhir tahun kujemput kalian, dan kita kembali berkumpul awal tahun.

Tuesday, July 27, 2010

Saya Bingung Kalo Menyuruh OB untuk Urusan Pribadi di Luar Kantor….

Sahabat, sering menyuruh OB di kantor untuk keperluan/ urusan pribadi (bukan keperluan / urusan kantor)? Mungkin sering ya, atau kalo gak sering ya pernah. Hal itu lazim kok, karena untuk jasanya biasanya OB dikasih tips. Saya cuma mau cerita, kalo saya kok sepertinya gak enak kalo nyuruh mereka untuk bantuin kita untuk kepentingan pribadi, seperti beliin makanan, beliin minuman, beliin Koran, beliin ATK, cuci kendaraan, dsb. Bukan maksudnya saya sok banget gitu, tapi saya cumin gak enak kalo ngasih tips-nya gak sesuai ama ekspektasi mereka. Soalnya kalo yang nyuruh bos kan tipsnya gede tuh antara 10rb – 20rb. Sementara kalo saya berpendapat jangan segede itu lah, maksimal 5rb aja. Tapi ya itu terserah yang ngasih sih. Wong bos-bos mampu ngasih segitu masa kita larang.
Ya, saya selalu pertimbangin masalah tips kalo mau nyuruh OB. Saya bener2 takut kalo saya ngasih tips gak sesuai ekspektasi mereka, kemudian jadi bahan pembicaraan mereka, dan mungkin nanti kalo saya minta tolong mereka pada segan. So akhirnya daripada berpikir mumet gitu mending saya jalanin sendiri aja, ngopi sendiri, beli ATK sendiri, beli Koran sendiri, cuci kendaraan di jasa cuci motor, dsb.
Paling banter saya nyuruh OB untuk beli air aqua galon di ruangan kantor kalo dah habis, karena perhitungan tipsnya dah paket, harga satu galon Aqua di sini 20rb, kalo beli sekaligus 2 galon dikasih 50rb dah beres. Tipsnya 10rb sekali jalan : OB senang, saya pun tenang….

Tuesday, June 29, 2010

Pamara Kucintai Selalu.....

Inilah sebuah foto kenangan,
yang menceritakan perjuangan;
persahabatan;
persaudaraan;
kekeluargaan;
pembinaan mental;
kebersamaan;
dan tak ada yang mengalahkannya...........



Pamara Kucintai Selalu....

Monday, May 31, 2010

pengen nulis banyak.... tapii....

Sebenernya saya pengen nulis banyak... terutama tentang keilmuan di bidang pemeriksaan keuangan negara/ daerah, tapi sayang ilmu saya masih dangkal, belum matang dan takut kalo nantinya malah salah... hehehe... Doakan sahabat, semoga keilmuan saya tambah matang dan saya bisa membagi-baginya di berbagai media, di blog, di durat kabar, di Majalah Pemeriksa, di Jurnal Ilmiah, dan lain-lain sebagainya...
Kata Mr. BAP (Kalan saya waktu saya di BCF Manado), ada 2 manfaat dari kita melakukan kegiatan penulisan karya ilmiah, yang pertama adalah keilmuan kita tambah mantap, yang kedua angka kredit. Nah, bagus kan....
Yok mari kita banyak membaca biar bisa menulis banyak dan bermanfaat....... Amiin

Wednesday, May 26, 2010

daftar hadir kosong remunerasi harus dipotong....

Baru-baru aja terjadi peristiwa heboh di Perwakilan Body Checker Finance (BCF) sini karena temuan pemeriksaan (apa pengawasan?) Tim dari Itama (Inspektorat Utama). Temuan yang bikin heboh itu mengenai daftar hadir pegawai yang banyak bolongnya (tidak ditandatangani) namun di rekapitulasi tercatat hadir. Tim Itama (TIT) mengangkat hal tersebut menjadi temuan, hasilnya banyak yang kena TGR karena menurut TIT kalo tidak tanda tangan ya tidak hadir. Dan TIT menghitung kalo daftar hadirnya bolong 1 (baik pagi, siang, dan malam) berarti remunerasi yang diterima seharusnya dipotong 1% untuk setiap hari yang bolong. kalo sehari bolongnya 3x ya 3%. Analisa perhitungan itu menghasilkan data perhitungan remunerasi pegawai yang seharusnya dipotong ada yang sampai 2 juta karena bolongnya ampe berbulan-bulan. Dan sebagian besar pegawai antara 100 rb - 1 juta. Rrruuaaarrrrr Biasaaaaa......... Trus kelanjutannya???
Dari para pegawai berharap temuan tersebut tidak diberi rekomendasi untuk pengembalian uang ke kas negara. Kenapa??? Karena TIT harus mencari penyebabnya kenapa bisa daftar hadir bolong begitu banyak???? Saya sebagai saksi hidup mau ngasih alesannya neh:
  1. Harus di cek terlebih dulu apakah sistem presensinya yang tidak memadai atau memang benar2 pegawai yang tidak tanda tangan daftar hadir tidak berangkat;
  2. Daftar Hadir tidak diantar ke masing-masing ruangan oleh Sub Bag SDM;
  3. Tidak ada mekanisme konfirmasi dari Sub Bag SDM jika ada daftar hadir yang kosong, apakah orangnya benar tidak hadir atau sedang tugas atau kelupaan;
  4. Masa iya sih kalo benar pegawai tidak hadir sampai 30 hari atau berbulan - bulan tidak ditegur sama atasan langsungnya???
  5. TIT apa tidak memperhatikan kemungkinan2 tersebut di atas??? kalo memang memaksakan temuan demikian ya berarti gak ada sisi kemanusiaannya tuh... hehehe...
  6. Tugas TIT adalah pengawasan bukan pemeriksaan... dampak dari pengawasan rekomendasinya adalah pembinaan.... (apakah TIT sudah melakukan pembinaan???)
Wah udah ah ntar kebanyakan, tolong teman-teman di Itama pahami lagi dong kondisi-kondisi di atas apa sebenernya penyebabnya, supaya rekomendasi yang disampaikan besok benar-benar menghilangkan penyebabnya. Kan udah pernah dapet diklat kalo tujuan rekomendasi itu menghilangkan sebab. Kalo sebabnya dah ketemu yang sebenarnya, pasti rekomendasinya OK.
Salam Hangat dari Gorontalo.... !!!
*untungnya sekarang dah pake handkey, jadi yang bolong ya memang yang telat hehehe....*

Wednesday, May 19, 2010

kamu kamu kamu lagi....

Teringat seorang teman, di statusnya nulis: itu lagi itu lagi.... Ternyata dia sedang memikirkan tentang kejadian di kantor BCF (Body Checker Finance, red) sini, yang kalo ada diklat di Jakarta pesertanya pasti "kamu kamu kamu lagi....."
Emang aneh sih, kalo di BCF sini ada unsur teknis (sub auditorat) dan unsur penunjang pendukung (sekretariat), tapi kalo ada diklat yang berkaitan dengan peningkatan kualitas auditor yang ikut / dikirim yang dari sekretariat. Yang dari sub auditorat jarang, bahkan boleh dibilang gak pernah. Karena apa? Setelah saya amati, ketika ada fax dari pusdiklat tentang permintaan peserta diklat yang menerima bagian sekretariat, kemudian langsung deh pada mengusulkan diri masing-masing untuk diikutkan... trus dibikin nota dinas kepala perwakilan (kalan), ditandatangani kalan dan difax balik... trus seminggu kemudian datanglah fax dari pusdiklat tentang pemanggilan peserta diklat.
Yang di Sub Auditorat??? yah... maaf ya, anda harus berkutat dengan file2 pemeriksaan, jadi harus konsen ke situ, gak usah mikirin diklat di Jakarta, biar yang berangkat Diklat yang gak sibuk di kantor... hehehe....
Ssebenernya saya gak pengen menulis ini, ntar dibilang,"ah lu iri aja kan Mam....". Bukan. Saya malah masa bodoh dengan diklat di Jakarta. Sebisa mungkin saya gak akan meminta untuk diikutkan diklat. Kalo ditawari baru mau. Tapi saya prihatin dengan teman2 yang di Sub Auditorat, mereka jarang diikutkan diklat di Jakarta, padahal sebenarnya momen diklat sangat penting untuk meng-upgrade pemahaman, kemampuan, dan ketrampilan yang diperlukan dalam tugas pemeriksaan. Tapi mau bagaimana lagi, apa kita harus merengek-rengek minta???
Akan lebih baik, ketika ada kesempatan diklat, pimpinan perwakilan menawarkan secara fair ke seluruh pegawai (baik sekretariat maupun sub auditorat) untuk kemudian diseleksi oleh pimpinan perwakilan dan baru kemudian dikirimkan ke pusdiklat. Jadi, ketika prosesnya fair tidak ada teman yang merasa menjadi anak tiri. Tidak ada unit kerja yang menjadi anak tiri.....
Semoga, ke depannya tidak ada teman bersenandung lagunya The Sister, "...kamu kamu kamu lagi....."

Saturday, May 01, 2010

Friday, April 30, 2010

[gorogorostory] 2 : Kartu Askes....

Suatu ketika, Sronto (bukan nama sebenarnya,Red) yang sedang tugas audit sakit dan dibawa ke RS Aloei Saboe (RSAS) di kota Gorontalo oleh temannya yang bernama Amel. Sampe di sana ternyata Sronto diperiksa dan dinyatakan kena gejala tipes dan harus diopname. Nah karena Sronto ini PNS, dan dia ikut Askes maka Sronto yang ditemani Amel bilang ke pegawai rumah sakit bahwa pengobatan Sronto pake Askes. Dan disetujuilah bahwa Sronto dirawat inap di rumah sakit dengan menggunakan Askes. Karena kamar rawat inap kelas 1-3 full maka mas Sronto dirawat di kamar VIP, tentunya dengan memperhitungkan kelebihan biaya antara fasilitas yang dibiayai askes dengan yang sebenarnya.
Untuk pengurusan askes, maka Sronto menyuruh Amel mencari kartu Askesnya di kamar kosnya. Dan setelah dicari, ternyata Amel gak menemukan kartu itu. Sronto baru inget bahwa kartu itu sepertinya ketinggalan di Jawa saat dia pulang kampung beberapa waktu sebelumnya. Sronto pun menelepon keluarganya dan menanyakannya. Ternyata benar. Kartunya ada di rumah Sronto yang ada di Jawa. Karena mendesak maka Amel pun mencari alternatif solusi agar pengurusan administrasi Askesnya cepat. Salah satunya adalah dengan mengambil kopian Kartu Askes Sronto di administrasi kepegawaian kantornya. Setelah dapat, Amel segera menyampaikannya ke petugas askes di RSAS. Tapi apa jawaban petugasnya?
Petugas : "Harus yang asli Bu...."
Amel : "tapi yang asli di Jawa Bu... Apa kita harus pulang ke Jawa? Biayanya mahal, bisa lebih mahal daripada biaya pengobatan yang dibiayai kartu askes"
Petugas : "oh, kalo begitu tolong di-fax aja kartu askes yang di Jawa...!!"
Amel : "di-fax...???" (bengong...)
Petugas : "iya di-fax aja ke nomor fax rumah sakit ini....."
Amel : "Iya, baik Bu...nanti akan di-fax...."
Hayo pembaca, kenapa Amel sempet bengong...??? ya bengong lah, lah apa bedanya fotokopian kartu askes dengan kartu askes yang di-fax.... malah bisa lebih jelas yang fotokopian daripada yang fax-fax-an..... hehehehe.... Tapi ya udahlah, daripada berdebat terus dan gak slese-slese akhirnya dipenuhilah saran dari pegawai itu... dan Alhamdulillah Sronto segera sembuh dan cuman 3 hari di RSAS...
Kalo inget cerita ini jadi pengen ketawa terus... kenapa sih hal-hal aneh ini bisa terjadi... padahal sebenernya hal yang mudah gitu kok dibikin sulit....