Friday, March 12, 2010

hati ini semakin mengungu......

Teringat masa lalu jika menjawab pertanyaan kenapa aku suka Fiorentina??? Yaps. Aku mulai mengungu sejak kelas 3 SMP. Dimulai saat aku main ke Rumah seorang temenku, ada Tabloid Bola di sana. Kulihat halaman tengah, sebuah poster: Batigol. Di sebelah kirinya adalah profil dia. Begitu kerennya poster itu, hingga aku akhirnya memutuskan meminjam tabloid itu untuk kubawa ke rumah. Yang kuingat, tabloid itu gak kukembalikan. Posternya kugunting, kupajang di dinding kamar. Khi..Khi..Khi...Nakall Banget ya...!!! Dan terpajanglah poster seorang pemain dengan baju ungu: Gabriel Omar Batistuta, Fiorentina/Argentina.
Trus rasa penasaran itu semakin besar. Apa sih hebatnya Batistuta, Trus apaan tuh Fiorentina. Mmhh... Akhirnya kuputuskan untuk sering membeli Tabloid Bola, tapi bukan langganan, karena keluargaku bukanlah keluarga yang kaya, yang bisa memberikan anaknya uang saku yang banyak. Saat itu Tabloid Bola terbit setiap hari Jumat, seharga Rp1.750,00. Uang sakuku Rp500 sehari. Jadi tiap hari aku menyisihkan 200-300 agar bisa beli Bola. Selalu kuikuti perkembangan Serie A. penasaran dengan Klub bernama Fiorentina, sragamnya ungu, dengan logo khas bergambar Bunga Lily (jadi inget logo di baju Pramuka). Dan jadi ingat Three Musketeers di Prancis. Keren...
Fiorentina, prestasinya memang tidak sebanyak AC Milan, Juventus atau Inter Milan. Tapi gak tau kenapa hingga akhirnya hati ini rasanya senang sekali kalo Fiorentina diberitakan, Fiorentina disiarkan. Sreg. Kuputuskan, kalo ditanya klub sepakbola favorit, mantap kujawab: Fiorentina.
Sampai dengan kelas 3 SMA, masa-masa indah mengenang Hari Senin saat upacara pasti ngobrolin Hasil pertandingan Serie A. Saling ejek antar klub itu menjadi bumbu saat upacara. Tapi aku merasa bahwa akulah yang paling bangga. Di antara banyak temanku, aku adalah salah seorang di antara sedikit temanku yang menjagokan Fiorentina. Hingga sampai ada pendaftaran Viola Club Indonesia, aku mendaftar meskipun aku hanya anggota biasa. Kalo anggota yang khusus (dapat fasilitas buletin dsb) harus bayar biaya bulanan waktu itu. Alamakk... uang dari mana hehehe. Yang penting aku dah daftar jadi Fiorentini.
Menginjak Kuliah, penjualan Batistuta ke Roma menjadi peristiwa yang sulit dilupakan. Khawatir Viola langsung ambruk begitu Batigol hengkang. Tapi tidak. Di tangan dingin Fatih Terim, Viola menunjukkan bahwa klub ini bisa menjadi ancaman. Meski hanya setengah musim. Fatih Terim mengundurkan diri. Digantikan Roberto Mancini. Mancini membawa Viola menjadi Juara Coppa Italia (meski saat itu sudah tidak ada Batistuta), namun hasil itu tak lepas dari buah pelatihan Fatih Terim yang membawa Viola sampai Semifinal. Mancini meneruskan dari Semifinal dan akhirnya ,menang di final. Rui Costa menjadi idola baru. Dialah Il Capitano pengganti Batistuta. Namun, hasil di Liga mengecewakan. Viola ada di posisi 9 klasemen Akhir, meski berhak tampil di Piala UEFA berkat menjuarai Coppa Italia.
Musim 2001 - 2002 menjadi musim yang paling suram. Rui Costa pindah ke AC Milan. Toldo pindah ke Inter Milan. Meski Fiorentina meminjam Maningger dari Arsenal sebagai pengganti Toldo, namun belum ada sosok yang menggantikan Rui Costa. Marco Rossi yang di musim sebelumnya disebut-sebut sebagai new Rui Costa semakin tenggelam. Striker??? Meski masih ada Enrico Chiesa, Pedja Mijatovic, dan Nuno Gomes, namun tanpa adanya pemain tengah yang bisa diandalkan (selain Di Livio) membuat striker tidak bisa menghasilkan banyak gol. Akibatnya Fiorentina jarang menang, malah lebih banyak kalah. Akhirnya terpaku di dasar klasemen Musim 2001/2002. Apes. Udah Jatuh tertimpa tangga. Fiorentina ternyata BANGKRUT. Dan tidak boleh main di Serie B. Dan Pemerintah Kota Florence akhirnya menolong Fiorentina, dengan menyokong klub tersebut tetap berkompetisi. Namun di Serie C2, dan bereinkarnasi nama menjadi Florentia Viola.
Menjadi Florentia Viola, klub ini menjuarai Serie C2 pada musim 2002/2003. I Viola berhak naik kelas ke Serie C1. Namun kebetulan saat itu ada kisruh masalah jumlah peserta Liga Serie B dan Serie A yang akhirnya FIGC memutuskan bahwa jumlah peserta Serie A menjadi 20 klub (dari sebelumnya 18 klub) dan Serie B menjadi 22 peserta (dari sebelumnya 20 klub). Dan akhirnya, jumlah klub serie B ditambah. Florentia Viola memperoleh hadiah yang tidak disangka-sangka. FIGC memberikan penghormatan besar kepada Florentia Viola. Florentia Viola diberikan tiket untuk mengikuti Kompetisi serie B. Naik sekaligus 2 tingkat. Dan ada pula hadiah tambahan: Florentia Viola dibeli oleh Juragan Sepatu :Della Valle bersaudara, Diego dan Andrea. Selain itu, Della Valle juga membeli lagi nama Fiorentina (beserta profil historisnya) yang telah divonis bangkrut pada Tahun 2002.
Hanya setahun di Serie B, Fiorentina berada di peringkat 4 Serie B pada musim 2003/2004, dan berhak untuk melakukan pertandingan Play Off dengan Perugia (posisi 16 Serie A). Hasilnya Fiorentina memenangkan play off tersebut dan berhak ke Serie A.
Di Serie A, Fiorentina mengandalkan muka-muka baru. Minim pemain bintang. Hanya Enzo Marescha dan Fabrizio Miccoli yang dipinjam dari Juventus yang "lumayan" terkenal. Bojinov datang di pertengahan musim. Meski akhirnya dilatih Dino Zoff dari pertengahan musim, hasilnya Fiorentina menempati posisi 15. Selamat dari Degradasi di musim 2004/2005.
Musim 2005/2006, Cesare Prandelli datang. membawa perubahan. Manajemen mendatangkan pemain-pemain yang OK. Stefano Fiore dipinjam dari Valencia. Sebastian Frey dipinjam dari Parma. Luca Toni dibeli dari Palermo. Montolivo dan Pazzini dibeli dari Atalanta. Manuel Pasqual dibeli dari Arezzo. Tomas Ujfalusi dibeli dari HSV. Kereeennn.... Luca Toni menjadi Cappocannonieri dengan jumlah 32 gol. Fiorentina ada di posisi ke-4 serie A dan berhak ke Liga Champion.
Namun kabar buruk datang. Fiorentina dinyatakan terlibat skandal Calciopoli di musim 2004/2005 dan divonis degradasi ke Serie B bersama Juventus dan Lazio. Alamakkkkkk........ Namun akhirnya Manajemen Viola mengajukan banding, dan diputuskan Poin Fiorentina di Musim 2005/2006 dikurangi 9 poin, dan diputuskan pula Fiorentina mengawali Musim 2006/2007 dengan minus 15 poin. Musim yang berat. Stefano Fiore tidak meneruskan penampilan gemilangnya karena pihak Valencia tidak sepakat dengan harga yang diajukan Manajemen Viola. Dan Fiorentina mendapatkan Adrian Mutu dari Juventus yang tidak betah dicadangkan terus menerus. Namun Fiorentina berhasil melewati musim yang berat ini dengan berada di posisi 6 klasemen Serie A dan berhak ke Piala UEFA.
Musim 2007/2008, Fiorentina berlaga di Piala UEFA sampai dengan babak Semifinal. dan menyudahi klasemen Serie A di posisi 4. Memenangkan persaingan dengan AC Milan yang harus berpuas di posisi 5. Good Result!!!!
Musim 2008/2009, Fiorentina yang seakan kaget dengan tampilnya mereka di Liga Champions, terhempas di babak grup yang dihuni oleh Bayern dan Lyon. Fiorentina yang harus meneruskan laganya di Piala UEFA pun kalah dari Ajax. Namun musim ini Viola konsisten dengan menduduki posisi ke-4. Mengalahkan Genoa dengan nilai yang sama. Namun Viola unggul pertemuan Head to Head. Good Result!!! (lagi).
Dan di Musim 2009/2010 inilah permainan terbaik Viola di Liga Champions. Melangkah sampai babak 16 besar, namun secara menyakitkan dikalahkan oleh Bayern Muenchen 2-1 di leg pertama dengan bantuan seorang wasit dan seorang asisten wasit. Kemenangan Viola atas Bayern di leg ke-2 dengan skor 3-2 membuat Viola harus tersingkir. Sedih banget. Andai saja di leg pertama Bayern tidak dibantu wasit, pastilah Viola yang ke babak 8 besar.
Huff, begitulah sepakbola, dan di sisa musim ini, ayo berjuanglah Viola. semoga bisa mencapai 4 besar klasemen Serie A.
Dan yang membuat tambah semangat adalah, ternyata fans Viola banyak..... senangnya bisa berkumpul dengan orang-orang yang punya jagoan sama, Fiorentina. Dan hati ini menjadi semakin mengungu.....

Monday, January 18, 2010

Tuesday, December 29, 2009

Kisah Seorang HNW yang Menolak Mobil Volvo


Saat diamanahi menjadi Ketua MPR periode 2004 - 2009, Hidayat Nur Wahid (HNW) akan diberi fasilitas Mobil Dinas bermerek Volvo yang harganya berkisar 900 juta rupiah. Namun HNW menolaknya, beliau lebih memilih Mobil Camry sebagai mobil dinasnya, dan mobil itu pun merupakan bekas mobil-mobil yang digunakan untuk kepentingan KTT Asia Afrika 22-23 April 2005.

Hidayat Nurwahid mengatakan, selama ini ada semacam 'kebiasaan' bahwa jabatan negara selalu diidentikkan dengan fasilitas mewah yang disediakan negara. "Kami justru ingin agar ada penghematan anggaran. Apalagi negara sedang mengalami kesulitan seperti ini," katanya.

Kalaupun sebagai pimpinan MPR berhak memperoleh fasilitas dari negara, kata Nurwahid, maka perlu diusahakan bahwa fasilitas itu tidak menimbulkan penilaian buruk dari publik. Misalnya, mengenai kendaraan dinas, pimpinan MPR menginginkan agar bukan kendaraan bermerk Volvo, namun kendaraan merek lain yang harganya jauh lebih murah dibanding Volvo.
"Dulu yang kita tolak itu kan mobil Volvo yang memang kalau dilihat dari harganya Rp 900 jutaan.

Namun sekarang pemerintah membeli mobil Toyota Camry yang harganya sekitar Rp 350 juta per unit. Jadi disitu ada selisih harga sekitar 550 juta," ujarnya di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/4/2005).

Menurut Hidayat usulan penolakan mobil Volvo terbukti dapat menghemat keuangan negara. Jika dihitung satu unit kendaraan ada selisih 550 juta dan dikalikan 60 mobil, ada penghematan anggaran negara sekitar Rp 33 miliar.


Ia menambahkan, pada prinsipnya pembelian mobil itu untuk melayani tamu negara, bukan sebagai mobil dinas pejabat negara. Jika kemudian mobil itu dijadikan mobil dinas pejabat negara, lanjut Hidayat, merupakan kebijakan lain pemerintah.

"Tapi yang jelas, pembelian mobil tersebut telah berhasil melakukan penghematan uang negara sebesar Rp 33 miliar. Hal ini sesuai dengan yang kami usulkan kepada pemerintah untuk melakukan penghematan dan efisiensi keuangan negara," jelasnya.


Kisah di atas saya refleksikan dengan kondisi saat ini, saat pejabat negara (menteri dan pimpinan lembaga negara) akan mendapatkan fasilitas mobil dinas Toyota Crown Salon seharga 1,3 M per unit nya, adakah yang berani bersikap seperti HNW??? Ayolah... semoga Harapan Itu Masih Ada....

Sunday, December 20, 2009

Ops.. kenapa ya...

Iseng-iseng tadi aku buka alamat blog ini dengan menuliskan url-nya di addres bar... kok yang keluar hasil search engine Om Gugel.... trus hasilnya gak ada satupun yang nge-link ke blog ini...
trus aku ketik alamat blog istriku.... hasilnya sama search engine Om Gugel, tapi ada link-nya ke blog istriku....
Akhirnya dari blog istriku aku coba sign-in ke blogger, bisa, aku ketik ini, trus tulis ini, coba lihat entar hasilnya bisa kebuka gak... PENASARAN.... kenapa ya???

Friday, December 04, 2009

2 0 1 2

dapet email forward-an dari teman, hehe.... sebuah joke yang cukup menghibur....
(thanks Mas Tito atas forward-annya...)
Di tahun 2012, Tuhan memanggil Presiden AS, Cina, dan Indonesia untuk menyampaikan bahwa Ia memutuskan dalam tiga hari dunia akan kiamat. Tiga pemimpin ini disuruh kembali ke negaranya untuk menyampaikan kepada rakyat mereka masing-masing.

Akhirnya ketiga pemimpin ini pulang ke negara masing-masing sambil putar otak bagaimana caranya menyampaikan kabar ini kepada rakyatnya agar tidak panik.

Di depan Kongres Amerika dan disiarkan langsung di TV, Presiden Obama berpidato, "Ladies and gentlemen, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu. Tuhan itu benar-benar ada, seperti yang kita yakini. Kabar buruk: Tuhan akan memusnahkan dunia ini dalam tiga hari."

Hasilnya, terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana.

Di Cina, presiden cina berpidato didepan Kongres: "Kamerad, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu. Ternyata Marx, Stalin, Ketua Mao, dan para pendahulu kita salah. Tuhan itu benar-benar ada. Kabar buruk: Tiga hari lagi Tuhan akan mengkiamatkan dunia ini."

Hasilnya lumayan, orang-orang Cina lari menangis ketakutan dan membanjiri tempat ibadah utk bertobat.

Di indonesia, di depan sidang paripurna DPR yang dipimpin oleh ketua komisi III Benny K. Harmain dan disiarkan langsung oleh TV One, MetroTV, dll SBY berpidato: "Saudara sebangsa dan setanah air, saya membawa dua kabar baik.

Kabar baik pertama: Sila pertama Pancasila kita sudah benar, bahwa Tuhan itu benar-benar ada.

Kabar baik kedua: Dalam tiga hari ini semua masalah Bank Century, KPK, Polri, Buaya, Cicak, Komodo, PLN, Ujian Nasional, mal nutrisi bayi, IFES, energi, kesulitan pangan, penderitaan, kemiskinan, terorisme, korupsi, banjir dan segala macam kriminalisasi di Indonesia akan segera berakhir."

Hasilnya sukses besar. Seluruh rakyat dan mahasiswa larut dalam pesta dangdut dan tumpengan di mana-mana.

Friday, November 20, 2009

Elnino....

Setidaknya ada contoh yang patut ditiru tentang kesederhanaan dan kebersahajaan dari seorang Tokoh di Gorontalo. Semoga menjadi inspirasi yang baik bagi kita semua. Met berjuang Bung Elnino....

Kemewahan yang Menggoda Senayan

Senin, 16 November 2009 03:15 WIB


Sutta Dharmasaputra

Tidak mudah menjadi wakil rakyat. Baru sebulan duduk di Senayan, godaan sudah datang segunduk. Pendirian yang tak benar-benar kuat, pragmatisme bisa melumat. Kesederhanaan tidak laku, kemewahan malah nomor satu.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Provinsi Gorontalo, Elnino Mohamad Husein Mohi, merasakan itu. Belum sampai sebulan dilantik, aktivis dan bekas wartawan itu mengaku sudah mendapatkan banyak cobaan.

Oleh karena belum memiliki mobil, sebulan ini ia datang ke gedung DPR/DPD/MPR di Senayan dengan taksi. Pengalaman menarik pun dialaminya. Begitu taksi masuk pos penjagaan, seorang petugas langsung menghentikannya. ”Mau ke mana, Pak?” tanya petugas. ”Saya mau ke DPD,” ujar Elnino.

Petugas itu lalu bertanya lebih jauh, ”Ada keperluan apa?” Elnino pun menjawab, ”Mau rapat, Pak.”

Tak mengira Elnino sebagai anggota DPD, petugas itu pun langsung memerintahkan taksi itu segera parkir. ”Mobil tamu di sebelah sini parkirnya, Pak,” kata petugas itu.

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Elnino pun menunjukkan pinnya. ”Saya mau sidang, Mas,” ucapnya.

Petugas itu langsung memberi hormat dan mempersilakan taksinya masuk. ”Jadi, cuma pin kecil ini yang dihormati di Senayan,” kata Elnino, sambil tertawa, saat berbincang-bincang dengan Kompas di kediamannya, pekan lalu.

Pengalaman pahit itu bukan hanya terjadi sekali. Saat hendak mengisi daftar hadir untuk Rapat Paripurna MPR, seorang petugas pun mengira dirinya sebagai staf ahli karena tidak berjas. ”Dari provinsi mana? Namanya siapa? Mana bapaknya?” ucap petugas itu.

Elnino yang bergelar master manajemen politik dari Universitas Indonesia itu pun langsung menjawab ringan. ”Saya ini memang tidak ada tampang jadi pejabat, ya?” ujarnya.

Sang petugas pun langsung memohon maaf.

Saat mengurus uang tiket untuk pelantikan MPR lebih lucu lagi. Karena mengurus administrasi sendiri, begitu hendak menandatangani tanda terima, petugas langsung bertanya kepadanya. ”Bawa surat kuasanya, Pak,” tanya petugas itu.

Menurut Elnino, kalau pada masa lalu syarat seorang menjadi pemimpin itu harus berkorelasi dengan kecerdasan dan akhlak, saat ini tampaknya sudah berubah. ”Sekarang itu rupanya harus berbanding lurus dengan kekayaan,” ujarnya sambil tertawa.

Tuntutan penampilan pun dirasakan anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Malik Haramain. ”Jika dulu tidak berjas, sekarang mau tidak mau harus berjas,” ucapnya. Ia sebelumnya menjadi staf ahli di DPR.

Oleh karena pada masa kampanye Pemilu 2009 ia harus menjual mobil sedan tuanya sebagai modal, gaji pertamanya pun akan digunakan untuk membeli mobil. Tentunya, tidak lagi membeli sedan tua, tetapi Honda Stream.

Menurut Malik, ia pun harus menggunakan penghasilan yang diterimanya dengan sebaik-baiknya karena proposal pun langsung menumpuk. Tanggung jawab makin besar.

Seperti halnya Malik, Elnino pun berencana mengkredit mobil Toyota Innova. Tetapi, godaan juga datang. Seorang rekannya mendorong dirinya untuk membeli mobil lebih mewah karena kini menjadi tokoh nasional.

”Dinda kamu itu pintar. Cuma kita ini, kan, sudah jadi tokoh nasional. Nanti kita cari duitlah. Nanti kita cari proyek kebijakan Rp 100-an miliar. Cuma kalau urus itu harus berubah penampilan, dong. Pakai Fortuner-lah, masak Innova,” papar Elnino, yang saat ini masih tinggal di Asrama Mahasiswa Gorontalo di Jalan Salemba Tengah, Jakarta.

Penentuan diri

Menghadapi godaan itu, 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD mempunyai banyak pilihan, apakah akan tergerus pada gaya kemewahan atau membudayakan kesederhanaan. Pasalnya, fasilitas yang diberikan negara memang besar.

Penghasilan rutin yang diterima anggota DPR tahun 2009, berdasarkan catatan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT), hampir Rp 60 juta per bulan. Gaji pokok dan tunjangan, setelah dikurangi berbagai potongan pajak, mencapai Rp 16,17 juta; penerimaan tunjangan lain-lain Rp 43,6 juta. Jumlah ini di luar tunjangan reses, kunjungan kerja, rapat di luar kota, dan pembuatan undang-undang.

Penghasilan anggota DPD pun kurang lebih sama besar. Uang kehormatan sekitar Rp 31 juta, tunjangan perumahan Rp 13 juta, dan tunjangan komunikasi Rp 8 juta. ”Sekitar Rp 60 jutaan. Kalau ditambah dengan tunjangan kunjungan kerja, bisa lebih dari Rp 70 juta,” tutur seorang anggota DPD.

Kalau memasuki areal parkir di Senayan periode sebelumnya memang terasa seperti ruang pajang mobil. Segala mobil mewah berjajar mentereng. Seorang doktor dari Malaysia yang belum lama ini datang ke Indonesia pun sempat terheran-heran karena di Jakarta ini banyak sekali mobil mewah. Padahal, negara ini punya utang 1,5 kali dari APBN.

Malik pun berpendapat, gaya hidup anggota Dewan pada akhirnya ditentukan oleh masing-masing. Ia mencontohkan seniornya, Effendy Choirie, yang, meski sudah beberapa periode menjadi anggota DPR, tidak bermewah-mewah. ”Choirie dari dulu mobilnya, ya, itu-itu saja,” ucapnya sambil tertawa.

Elnino punya cara lain untuk menjaga agar dirinya tidak larut pada tekanan pragmatisme. Dia menyerahkan semua penghasilan kepada Tim Sembilan. Tim itu yang menentukan berapa banyak yang layak digunakan dirinya dan berapa banyak untuk program konstituen. Pada bulan pertama ini, Elnino pun disepakati hanya menerima Rp 20 juta dari Rp 60 juta yang dia terima.

Menurut Elnino, gaji yang diterima anggota Dewan memang harus digunakan untuk kemakmuran rakyat karena gaji itu sesungguhnya berasal dari utang.

Berapa lama idealisme ini akan bertahan? Elnino tersenyum. ”Paling tidak, sebulan ini belum terkikis,” ujarnya.

Presiden pertama Amerika Serikat George Washington pernah mengatakan, setiap pemimpin harus mengalami proses penentuan diri. Pemimpin sejati melangkah pada jalurnya.


Artikel ini diambil dari sini

Wednesday, November 11, 2009

Rekayasa.... Oh No...!!!

Wow.... kita lihat bagaimana ini akhir kisah rekayasa-rekayasa yang ada di Indonesia. Rekayasa para manusia... para makhluk Tuhan.
Sadarkah mereka, yang paling ber-hak merekayasa hidup kita adalah Tuhan... tentunya sesuai ikhtiar dari manusia....
ya ALLAH, tunjukkan yang benar itu benar, dan bimbing kami tuk mengikutinya....
dan tunjukkan yang salah itu salah, dan beri kekuatan pada kami untuk menjauhi dan menolaknya.
hanya ENGKAU-lah pemilik kebenaran paling hakiki....

Friday, November 06, 2009

Kisah Polisi dan Surat untuk Tuhan...

Ini kisah sudah berputar-putar di dunia maya dari tahun 90-an... tapi rasanya memang masih relevan ya dengan keadaan sekarang.... ini loh ceritanya:
Alkisah, ada keluarga yang hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan taraf hidupnya, tetapi selalu menemui kegagalan. Dalam suasana keputus-asaan, sang Bapak sebagai kepala keluarga secara khusuk berdo’a kepada tuhan. “Yaa...Tuhan berikanlah hambamu ini rezeki sehingga kami dapat memberi nafkah kepada anak istriku”. Do’a terus dipanjatkan setiap malam, tetapi rezeki belum juga datang dan hidupnya tetap dalam kemiskinan.
Pada tengah malam, ketika selesai berdo’a sang Bapak merenung dalam hati, kenapa Tuhan belum juga memberi rezeki, apakah Tuhan sudah tidak mau lagi mendengarkan do’aku ? jika demikian, apa salah dan dosa yang telah aku perbuat ? Masih dalam keputusasaan, akhirnya muncul dalam pikirannya : Jika Tuhan sudah tidak mau mendengarkan do’aku, maka sebaiknya aku akan menulis surat kepadaNya.
Lalu ditulislah surat kepada Tuhan yang isinya permohonan agar dirinya diberi rezeki berupa uang sebesar Rp 200.000,- sebagian untuk membayar SPP anaknya dan sisanya akan dibelikan beras untuk keluarganya. Surat selesai dibuat, lalu dimasukkan amplop dan ditulis: Kepada Tuhan di Surga.
Setelah ditempeli perangko seadanya lalu dimasukkan dalam kotak surat (bus surat). Petugas pos pun bingung ketika melihat surat dengan tujuan yang aneh, dan dalam kebingunang itu bertemulah petugas pos tersebut dengan Polisi. Terjadilah sebuah dialog antara petugas Pos dan Pak Polisi,”Pak polisi, saya bingung mengantarkan surat ini, dapatkah Bapak membantu saya?”
Alamat tujuan dan pengirim surat dibaca Polisi, karena curiga maka dibukalah surat tersebut. Setelah dibaca isi surat, Polisi yang baik hati terketuk hatinya, maka berkatalah dia kepada Petugas Pos : ”Surat ini saya bawa nanti akan saya urus dan sampaikan kepada pengirimnya”.
Ketika polisi sudah selesai bertugas, dia lihat di dompetnya hanya ada uang Rp150.000,-. Namun karena polisi itu memang orang yang baik, maka dia pun berniat memberikannya kepada pengirim surat itu. Dia memasukkan seluruh uangnya sebanyak Rp 150.000,- kedalam amplop balasan surat itu, lalu dicarilah alamat Bapak si pengirim surat tersebut. Ketika sudah ditemukan rumah si pengirim surat, diketuklah pintu beberapa kali.
Pintu dibuka oleh seorang anak dan terjadilah dialog : “Bapak ada?” Anak tersebut menjawab: “Bapak sedang sholat dan biasanya dilanjutkan dengan berdoa yang cukup lama Pak!”.
“Baik, kalau begitu karena saya masih ada urusan lagi, tolong berikan surat ini kepada Bapakmu” Pak Polisi seraya bergegas pergi. Ketika Bapaknya selesai berdoa, sang anak memberikan surat tadi kepada Bapaknya. Lalu dibuka, dan terkejut ketika melihat didalamnya ada uang sebanyak Rp 150.000,-.
“Parto...!” Sang Bapak memanggil anaknya, “Siapa yang mengantarkan surat ini tadi?” tanya Sang Bapak kepada anaknya, lalu dijawab: “Tidak tau pak namanya, tetapi dia tadi kesini masih berseragam Polisi”. “Aaahhh...dasar Polisi” Bapaknya menggerutu, “permohonan saya kepada Tuhan kan Rp 200.000,-. Kok tinggal Rp.150.000,-? “Dasar Polisi....dasar Polisi !!!” Masih suka melakukan Pungli kepada orang yang jelas-jelas susah seperti saya”....
Hikmah dari cerita ini: Kadang orang yang berbuat baik, belum tentu dianggap baik oleh yang tidak mengetahuinya. Di Indonesia saya percaya polisi yang baik lebih banyak daripada yang tidak baik, namun kadang citra negatif polisi yang terlanjur melekat dari jaman dulu seakan menjadi tembok tebal yang menghalangi pandangan orang-orang awam. Tapi saya percaya, ke depan POLRI harus bisa menunjukkan profesionalitasnya dalam menegakkan hukum, kebenaran, dan keadilan.... ingat, 2010 katanya sudah diberikan remunerasi loh.....pertanggungjawabkan dengan kinerja yang baik ya bapak dan ibu Polisi......

Friday, October 23, 2009